Fadil Hidayat
Departemen Obstetri dan Ginekologi RS Sumber Waras, Jakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Presentasi langka leiomioma uteri multipel pada remaja dan tantangannya terhadap kesuburan: Laporan kasus Yovian Timothy Satyo; Nazif; Fadil Hidayat
Tarumanagara Medical Journal Vol. 8 No. 1 (2026): TARUMANAGARA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/tmj.v8i1.37849

Abstract

Leiomioma uteri merupakan tumor jinak ginekologis yang umum ditemukan pada wanita usia reproduktif, namun sangat jarang terjadi pada populasi remaja, terutama dalam bentuk multipel. Kemunculan leiomioma uteri pada usia remaja menimbulkan tantangan diagnostik dan terapeutik tersendiri, khususnya terkait preservasi fertilitas. Laporan kasus ini mendeskripsikan seorang remaja perempuan berusia 18 tahun yang datang dengan keluhan perdarahan menstruasi berat disertai gejala anemia. Data klinis diperoleh melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan ultrasonografi ginekologi transabdominal. Diagnosis dan tata laksana pasien dianalisis serta dibandingkan dengan literatur terkini. Pasien mengalami perdarahan menstruasi berat selama empat hari dengan kadar hemoglobin 5,5 g/dL yang menunjukkan anemia berat. Pemeriksaan ultrasonografi awal mengarah pada hiperplasia endometrium, namun evaluasi ulang menunjukkan adanya leiomioma uteri submukosa multipel. Pasien memiliki faktor risiko obesitas dengan indeks massa tubuh 28,4 kg/m². Pasien ditatalaksana secara konservatif menggunakan kontrasepsi oral kombinasi tanpa pil plasebo serta dilakukan pemantauan berkala Mengingat usia muda dan kebutuhan preservasi fertilitas. Leiomioma uteri multipel pada remaja merupakan kondisi yang sangat jarang dan dapat bermanifestasi sebagai perdarahan uterus abnormal akut yang menyebabkan anemia berat. Diagnosis dapat menjadi tantangan karena keterbatasan pemeriksaan ginekologis pada pasien yang belum aktif secara seksual. Penatalaksanaan perlu mempertimbangkan kontrol gejala, risiko kekambuhan, serta upaya mempertahankan fertilitas di masa mendatang.