Stroke iskemik adalah gangguan neurologis fokal yang disebabkan oleh penyumbatan arteri otak yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke otak. Stroke merupakan penyakit katastropik dengan biaya tertinggi ketiga di Indonesia, sehingga biaya perawatan stroke menjadi beban yang besar bagi sistem kesehatan nasional. Cost of illness merupakan studi farmakoekonomi yang mempelajari beban ekonomi suatu penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran biaya medis langsung dan komponennya, perbedaan biaya medis langsung dan paket tarif INA-CBGs, dan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya medis langsung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif-analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diambil secara retrospektif selama periode 1 Januari hingga 30 Juni 2025 di Rumah Sakit “X” di Sulawesi Utara. Subyek penelitian adalah semua pasien JKN dengan diagnosis utama stroke iskemik yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel penelitian meliputi lama perawatan, komorbiditas, komplikasi, kelas rawat inap, dan total biaya medis langsung. Biaya medis langsung dihitung dengan pendekatan bottom-up menurut perspektif rumah sakit. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan bivariat. Hasil penelitian diperoleh jumlah sampel pasien stroke iskemik sebanyak 95 data rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi. Komponen biaya terbesar pasien stroke iskemik rawat inap adalah biaya tindakan medis sebesar Rp793.383.900 (38,43%) diikuti biaya laboratorium Rp306.736.415 (14,86%), dan jasa pelayanan medis sebesar Rp289.979.000 (14,05%). Total biaya medis langsung stroke iskemik adalah Rp2.064.640.282 dan tarif paket INA-CBGs Rp1.162.143.880. terdapat pengaruh signifikan faktor lama perawatan, komorbiditas, dan komplikasi terhadap biaya medis langsung stroke iskemik (p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa paket tarif INA-CBGs tidak mencukupi untuk membiayai pasien rawat inap dengan stroke iskemik (-Rp902.496.402).