Tsunami Aceh tahun 2004 tidak hanya menyebabkan kerugian fisik dan material, tetapi juga menimbulkan dampak psikososial yang signifikan bagi anak dan remaja. Dalam proses pemulihan pascabencana, berbagai organisasi kemanusiaan mengembangkan program pendampingan psikososial berbasis komunitas untuk membantu penyintas membangun kembali kehidupan sosial mereka. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi partisipatif yang digunakan dalam pendampingan psikososial berbasis komunitas untuk membangun keberdayaan remaja penyintas tsunami Aceh 2004. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan seorang praktisi yang terlibat langsung dalam program pemulihan psikososial bersama UNICEF dan Save the Children pada fase rehabilitasi pascatsunami Aceh. Data dianalisis menggunakan teknik analisis tematik melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi komunikasi dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan melibatkan struktur sosial lokal seperti keuchik, tuha peut, tokoh agama, dan tokoh pemuda sebagai pintu masuk komunikasi dengan masyarakat. Pendampingan berfokus pada penguatan fungsi sosial remaja melalui aktivitas kelompok, bukan intervensi psikologis individual. Komunikasi interpersonal, pembangunan kepercayaan, serta pemberian ruang partisipasi menjadi faktor penting dalam meningkatkan keberdayaan remaja. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi artisipatif berbasis komunitas mampu memperkuat resiliensi sosial, meningkatkan keterlibatan remaja dalam aktivitas komunitas, serta mendorong keberlanjutan program pemulihan pascabencana.