RM Sonny Sasotya
Urogynecology Division, Department of Obstetrics and Gynecology, Faculty of Medicine, Padjadjaran University – Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Comparison of Quality of Life and Sexual Function between Pelvic Organ Prolapse Patients Using Pessary and Surgical Intervention Setyawan Nurtanio; RM Sonny Sasotya; M. Rizkar Aref Sukarsa; Eppy Darmadi Achmad; Andi Rinaldi; Aria Prasetya Ma'soem; Kania Praharsini
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 1 March 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i1.1035

Abstract

Objective: This study aims to compare the improvement in QoL (measured by PFDI-20) and sexual function (measured by FSFI) in POP patients (stage II-IV) treated with either surgical intervention or pessary insertion.Methods: The study employed a quasi-experimental pre–posttest design involving 60 patients with stage II–IV pelvic organ prolapse (POP), consisting of 30 patients in the surgical group and 30 patients in the pessary group, conducted at two tertiary referral hospitals in Bandung. Quality of life and sexual function were assessed using the Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) and the Female Sexual Function Index (FSFI) before and three months after the intervention. Statistical analyses included paired t-tests to evaluate within-group changes before and after the intervention and independent t-tests to compare post-intervention outcomes between the two groups.Results: The results demonstrated that both the surgical group and the pessary group showed significant improvements in quality of life and sexual function (p<0.001). In the surgical group, the FSFI score increased from 16.46 ± 6.88 to 27.68 ± 3.17, surpassing the threshold for normal sexual function, while the PFDI-20 score decreased from 114.34 ± 57.44 to 14.93 ± 7.37. The pessary group also showed significant improvement, with the FSFI score increasing from 18.69 ± 4.76 to 24.80 ± 3.83 and the PFDI-20 score decreasing from 130.24 ± 48.80 to 36.98 ± 21.37. Post-intervention comparative analysis showed statistically better outcomes in the surgical group for both the FSFI score (p=0.002) and the PFDI-20 score (p<0.001).Conclusion: Both surgical and pessary interventions are effective in improving the quality of life and sexual function in women with pelvic organ prolapse. Surgical intervention, however, offers superior and lasting outcomes. Pessary usage remains an important non-surgical option for patients seeking conservative management. AbstrakTujuan: Penelitian ini bertujuan membandingkan perubahan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien POP stadium II–IV yang menjalani terapi bedah dan penggunaan pessarium.Metode: Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi-eksperimental dengan desain pre–posttest yang dilakukan pada 60 pasien POP stadium II–IV, terdiri atas 30 pasien kelompok bedah dan 30 pasien kelompok pessarium, di dua rumah sakit rujukan tersier di Bandung. Penilaian kualitas hidup dan fungsi seksual dilakukan menggunakan kuesioner Pelvic Floor Distress Inventory-20 (PFDI-20) dan Female Sexual Function Index (FSFI) sebelum dan tiga bulan setelah intervensi. Analisis statistik menggunakan uji t berpasangan untuk menilai perubahan sebelum dan sesudah intervensi pada tiap-tiap kelompok serta uji t tidak berpasangan untuk membandingkan luaran pascaintervensi antar kelompok.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan terapi bedah dan kelompok dengan pessarium menunjukkan peningkatan bermakna pada kualitas hidup dan fungsi seksual (p<0,001). Pada kelompok bedah, skor FSFI meningkat dari 16,46 ± 6,88 menjadi 27,68 ± 3,17, melewati ambang fungsi seksual normal, sedangkan skor PFDI-20 menurun dari 114,34 ± 57,44 menjadi 14,93 ± 7,37. Kelompok pessarium juga menunjukkan perbaikan yang bermakna, dengan peningkatan skor FSFI dari 18,69 ± 4,76 menjadi 24,80 ± 3,83 dan penurunan skor PFDI-20 dari 130,24 ± 48,80 menjadi 36,98 ± 21,37. Analisis perbandingan pascaintervensi menunjukkan hasil yang secara statistik lebih baik pada kelompok bedah baik untuk skor FSFI (p=0,002) maupun PFDI-20 (p<0,001).Kesimpulan:Terapi bedah dan penggunaan pessarium secara bermakna meningkatkan kualitas hidup dan fungsi seksual pada pasien prolaps organ panggul. Terapi bedah memberikan perbaikan yang lebih besar dan lebih menyeluruh, sedangkan penggunaan pessarium tetap merupakan pilihan nonbedah yang efektif dan aman pada pasien terpilih. 
Comparison of Insulin-Like Growth Factor-1 (IGF-1) and Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) Protein Expression Between Patients with Pelvic Organ Prolapse With and Without Cervical Elongation Marshal Justitia Wenas; RM Sonny Sasotya; M. Rizkar Arev S.; Eppy Darmadi A.; Andi Rinaldi; Aria Prasetya M.; Kania Praharsini; Berriandi Arwan
Indonesian Journal of Obstetrics & Gynecology Science Volume 9 Number 2 July 2026
Publisher : Dep/SMF Obstetri & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/obgynia.v9i2.1164

Abstract

Objective: Pelvic organ prolapse (POP) is a condition caused by weakened pelvic support structures and is often associated with cervical elongation. The role of growth factors, particularly insulin-like growth factor-1 (IGF-1) and transforming growth factor-β1 (TGF-β1), in the pathogenesis of cervical elongation remains unclear.Methods: This study was conducted at Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung, involving patients with pelvic organ prolapse with or without cervical elongation selected by consecutive sampling. Cervical IGF-1 and TGF-β1 expression was assessed by immunohistochemistry, and prolapse severity by POP-Q. Each group included 23 subjects. Data were analyzed using the Shapiro–Wilk and Mann–Whitney U tests.Results: Most participants were ≥ 50 years old, and the POP without cervical elongation group had a significantly higher proportion of postmenopausal women (95.7% vs. 65.2%; p = 0.02). IGF-1 expression did not differ significantly between the two groups (mean 6.39 vs. 7.01; p>0.05). In contrast, TGF-β1 expression was significantly lower in the POP with cervical elongation group than in the POP without cervical elongation group (2.62 ± 1.08 vs. 5.48 ± 2.41; p < 0.001).Conclusion: Decreased TGF-β1 expression may contribute to cervical elongation in POP through impaired extracellular matrix remodeling, while IGF-1 does not clearly distinguish this phenotype. These findings suggest cervical elongation as a distinct biological entity within the POP spectrum, with implications for its pathophysiology and surgical management.Perbandingan Ekspresi Protein Insulin-Like Growth Factor-1 (IGF-1) dan Transforming Growth Factor-β1 (TGF-β1) antara Pasien Prolaps Organ Panggul dan tanpa Elongasi ServiksAbstrakTujuan: Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi akibat kelemahan jaringan penunjang pelvis yang sering disertai elongasi serviks. Peran growth factor, khususnya insulin-like growth factor-1 (IGF-1) dan transforming growth factor-β1 (TGF-β) dalam patogenesis elongasi serviks belum sepenuhnya dipahami.Metode: Penelitian ini dilakukan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dengan melibatkan pasien prolaps organ panggul dengan atau tanpa elongasi serviks yang dipilih secara consecutive sampling. Ekspresi IGF-1 dan TGF-β1 pada jaringan serviks dinilai menggunakan imunohistokimia, sedangkan derajat prolaps dinilai dengan sistem POP-Q. Masing-masing kelompok terdiri dari 23 subjek. Data dianalisis menggunakan uji Shapiro–Wilk dan Mann–Whitney U.Hasil: Sebagian besar subjek berusia ≥50 tahun, dengan proporsi menopause lebih tinggi pada kelompok POP tanpa elongasi serviks dibandingkan kelompok POP dengan elongasi serviks (95,7% vs. 65,2%; p=0,02). Tidak terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi IGF-1 antara kedua kelompok (6,39 vs. 7,01; p>0,05). Sebaliknya, ekspresi TGF-β1 secara signifikan lebih rendah pada kelompok POP dengan elongasi serviks dibandingkan dengan kelompok POP tanpa elongasi serviks (2,62 ± 1,08 vs. 5,48 ± 2,41; p < 0,001).Kesimpulan: Penurunan ekspresi TGF-β1 dapat berkontribusi terhadap elongasi serviks pada POP melalui gangguan remodeling matriks ekstraseluler, sedangkan IGF-1 tidak secara jelas membedakan fenotipe ini. Temuan ini menunjukkan bahwa elongasi serviks merupakan entitas biologis tersendiri dalam spektrum POP, dengan implikasi terhadap patofisiologi dan tata laksana bedah.