Fajar Dirgantara Edward
Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Diagnosis and Management Options for Achalasia Fajar Dirgantara Edward; Ade Asyari
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.107

Abstract

Diagnosis and Management Options for Achalasia Background: Achalasia is a rare esophageal motility disorder characterized by increased lower esophageal sphincter tone and loss of esophageal peristalsis. The main symptoms include difficulty swallowing, vomiting, chest pain, weight loss, heartburn, and respiratory complications due to regurgitation. Objective: To know and understand the diagnosis and management options for achalasia.  Literature Review: All treatment methods aim to reduce outflow resistance and improve dysphagia. It is widely recognized that medical management without endoscopic or surgical intervention plays a minor role in the treatment of achalasia. Standard endoscopic methods include pneumatic dilation, botulinum toxin injection, and, more recently, the increasing availability and acceptance of peroral endoscopic myotomy. Time-tested surgical therapies include Heller myotomy with or without anti-reflux procedures, as well as esophagectomy for advanced-stage achalasia or failure of other surgical methods. Conclusion: Achalasia is a chronic and progressive esophageal motility disorder characterized by failure of lower esophageal sphincter relaxation and loss of esophageal peristalsis. Available management methods include pharmacological and non-pharmacological therapy or surgery, with each intervention selected based on indications and carrying its own side effects and complications.
Parotidektomi dengan Pendekatan Diseksi Ekstrakapsular pada Adenoma Pleomorfik Parotis Fajar Dirgantara Edward; Sukri Rahman
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.83

Abstract

Pendahuluan: Tumor parotis merupakan tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi. Sebagian besar dari tumor kelenjar parotis adalah jinak. Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak kelenjar ludah terbanyak sekitar 60-80% dari seluruh neoplasma di kelenjar ludah dan paling sering ditemukan pada kelenjar parotis sebanyak 85%. Diagnosis adenoma pleomorfik ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis, dan pemeriksaan penunjang dengan Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH), pemeriksaan radiologis, dan histopatologi massa tumor. Penatalaksanaan tumor jinak parotis adalah dengan eksisi tumor secara lengkap yaitu dengan parotidektomi dan preservasi nervus fasialis. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang wanita usia 24 tahun dengan adenoma pleomorfik parotis sinistra. Pada regio parotis sinistra tampak benjolan dengan ukuran 40x30x10 mm, berbatastegas, warna sama dengan sekitar, konsistensi padat kenyal, terfiksir, nyeri tekantidak ada. Dilakukan pemeriksaan BAJAH dengan hasil adenoma pleomorfik. Pemeriksaan Computerized Tomography Scan (CT scan) dengan kesan tumor parotis sinistra. Dilakukan tindakan parotidektomi dengan diseksi ekstrakapsular dan pemeriksaan histopatologi dengan kesan adenoma pleomorfik. Kesimpulan: Adenoma pleomorfik merupakan tumor jinak pada kelenjar ludah dan paling sering terjadi di kelenjar parotis yang ditandai dengan gejala pembengkakan di regio parotis, tanpa gejala, dan tanpa menimbulkan nyeri. Pemeriksaan BAJAH dan CT scan leher dapat dilakukan untuk membantu mendiagnosis adenoma pleomorfik. Teknik pembedahan parotidektomi dengan ekstrakapsular diseksi merupakan pilihan operasi pada kasus tertentu tanpa identifikasi nervus fasialis.