Jacky Munilson
Departemen THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Andalas/ RSUP. Dr. M. Djamil Padang

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Canal Wall Down Tympanomastoidectomy and Facial Nerve Decompression in Patients with Facial Nerve Palsy Caused By Cholesteatoma-Type Chronic Suppurative Otitis Media Leon Gaya; Jacky Munilson
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v5i1.110

Abstract

Canal Wall Down Tympanomastoidectomy and Facial Nerve Decompression in Patients with Facial Nerve Palsy Caused By Cholesteatoma-Type Chronic Suppurative Otitis Media Background: Facial nerve palsy is a neurological complication that can occur in patients with chronic suppurative otitis media (CSOM) of the cholesteatoma type. Cholesteatoma can damage the facial nerve through mechanisms such as compression, erosion of the facial nerve canal, and chronic inflammation. Management of peripheral facial nerve palsy caused by cholesteatoma-type CSOM can be effectively achieved through surgical intervention. Case Report: A 36-year-old male presented with a 10-year history of discharge from the right ear, who developed right-sided facial paralysis classified as House-Brackmann grade V, with a lesion level at the geniculate ganglion due to cholesteatoma-type CSOM. The patient underwent Canal Wall Down (CWD) tympanomastoidectomy, including cholesteatoma excision, facial nerve decompression, underlay graft placement, and reconstruction of the ear canal wall. Conclusion: Facial nerve palsy is a complication of cholesteatoma-type chronic suppurative otitis media (CSOM), which can be caused by direct or indirect compression of the facial nerve. Surgical intervention with Canal Wall Down (CWD) tympanomastoidectomy, including complete cholesteatoma excision and indirect facial nerve decompression, provides a good recovery of nerve function.
Diagnosis dan Tatalaksana Kolesteatoma Kongenital Alexis Faisal; Jacky Munilson
Jurnal Otorinolaringologi Kepala dan Leher Indonesia Vol. 4 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jokli.v4i1.91

Abstract

Latar Belakang: Kolesteatoma kongenital adalah kista inklusi epidermis yang bersifat jinak namun merusak, terletak di telinga tengah dan mastoid. Kondisi ini jarang terjadi, hanya mencakup 1%-5% dari semua kasus kolesteatoma. Meskipun etiologi kolesteatoma kongenital belum sepenuhnya jelas, hipotesis yang paling diterima adalah kegagalan penyerapan kembali sisa jaringan epitel embrionik selama perkembangan janin. Pada pemeriksaan fisik, kolesteatoma kongenital didapatkan massa berwarna putih mutiara di belakang membran timpani yang utuh, tanpa riwayat keluar cairan dari telinga (otorrhea) atau tindakan bedah bagian otologi sebelumnya. Tujuan: Untuk menganalisis gejala yang muncul, karakteristik klinis, penegakkan diagnosa dan tatalaksana pasien dengan kolesteatoma kongenital. Tinjauan Pustaka: Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah kerusakan parah pada struktur telinga tengah. Diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan klinis dan pencitraan, seperti Computed Tomography (CT) Scan dan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Metode assessment melalui Stadium Potsic digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan penyakit yang berkorelasi dengan resiko kekambuhan pascaoperasi. Kesimpulan: Kolesteatoma kongenital adalah massa putih yang terletak di medial membran timpani yang utuh, tanpa riwayat otore, perforasi atau prosedur otologi sebelumnya. Pilihan tatalaksana pembedahan terdiri dari dua prosedur bedah utama yaitu timpanomastoidektomi dengan dinding utuh dan dinding runtuh.