Generasi sandwich merujuk pada kelompok individu yang menanggung tanggung jawab merawat orang tua lanjut usia dan anak-anak yang masih bergantung secara bersamaan, sebuah posisi struktural yang menempatkan mereka di antara dua generasi dengan tuntutan yang saling bersaing. Penelitian ini mengkaji bagaimana perempuan dalam generasi sandwich mengalami dan menegosiasikan konflik peran dalam keluarga, dengan perhatian khusus pada distribusi kerja pengasuhan yang bias gender. Dengan pendekatan kualitatif fenomenologis, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap tiga informan perempuan di Surabaya yang sekaligus bekerja dan mengelola tanggung jawab rumah tangga serta pengasuhan, dilengkapi dengan analisis dokumen berbasis kasus. Konsep role-set dari Robert K. Merton digunakan sebagai kerangka analitis untuk menjelaskan munculnya ketegangan peran (role strain) dan konflik peran (role conflict) ketika berbagai tuntutan peran tidak dapat dipenuhi secara bersamaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga informan mengalami beban finansial, emosional, dan waktu yang saling tumpang tindih, dan beban tersebut secara konsisten dimaknai, baik oleh informan maupun lingkungan sosial di sekitarnya, sebagai perpanjangan alamiah dari peran domestik perempuan, bukan sebagai persoalan struktural yang memerlukan intervensi kelembagaan. Pola ini mengindikasikan bahwa fenomena generasi sandwich di kalangan perempuan bukan sekadar persoalan adaptasi individual, melainkan direproduksi melalui ekspektasi sosial berbasis gender yang menempatkan perempuan sebagai pengasuh utama secara default. Penelitian ini merekomendasikan agar program literasi keuangan, dukungan sebaya berbasis komunitas, serta kebijakan tempat kerja dan pemerintah dirancang dengan memperhatikan secara eksplisit struktur gender dalam pengasuhan, bukan diperlakukan sebagai intervensi yang netral gender.