Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya penerapan Teaching Factory (TEFA) karena keterbatasan peralatan bengkel yang sesuai standar industri, waktu praktik karena padatnya jadwal pembelajaran, maka diperlukan penguatan integrasi antara pihak sekolah dan industri agar pelaksanaannya semakin efektif guna meningkatkan kualitas pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan Teaching Factory di SMKN 8 Kabupaten Tangerang ditinjau dari tujuh indikator, yaitu: identifikasi produk, analisis cakupan kompetensi, perancangan produk, analisis kecukupan sumber daya, pengerjaan produk TEFA, hasil produk, serta evaluasi dan umpan balik. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian berjumlah 43 responden yaitu; 5 guru, 18 siswa, 5 mitra industri, dan 15 pelanggan. Instrumen penelitian berupa kuesioner skala Likert dengan 98 butir pernyataan. Uji validitas dilakukan menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan taraf signifikansi 5%, sedangkan reliabilitas diuji menggunakan Cronbach Alpha dengan hasil reliabilitas sangat tinggi (α > 0,90). Analisis data dilakukan dengan kriteria persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan Teaching Factory di SMKN 8 Kabupaten Tangerang secara keseluruhan berada pada kategori sangat baik dengan persentase capaian akhir sebesar 87,5%. Secara rinci, indikator identifikasi produk memperoleh 85,7%, analisis cakupan kompetensi 88,2%, perancangan produk 86,5%, analisis kecukupan sumber daya 89,0%, pengerjaan produk TEFA 87,3%, hasil produk 88,7%, serta evaluasi dan umpan balik 86,9%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan Teaching Factory di SMKN 8 Kabupaten Tangerang telah berjalan optimal pada semua indikator yang diteliti dan dapat menjadi acuan dalam pengembangan pembelajaran berbasis industri di SMK.