Gerhad Lanuharsa
Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGATURAN AI AGENTIK DALAM BANK SENTRAL: ARSITEKTUR KETAHANAN INSTITUSIONAL MULTI-LAPIS Trioksa Siahaan; Mulya Effendi Siregar; Achmad Fauzi; Retno Wahyuni Wijayanti; Edy Setiadi; Gerhad Lanuharsa
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 9 No. 3 (2026): Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING)
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/wd3qa649

Abstract

Kecerdasan buatan berbasis agen bukan lagi sekadar wacana bagi bank sentral. Sistem ini telah diterapkan secara nyata dalam pengawasan makroprudensial, pemantauan sistem pembayaran, dan analitik prediktif, membawa manfaat pengawasan yang signifikan sekaligus risiko tata kelola yang belum sepenuhnya diantisipasi oleh kerangka regulasi yang ada. Penalaran otonom, pengambilan keputusan berlapis, dan pembelajaran adaptif memunculkan tantangan yang melampaui risiko model konvensional, mencakup penularan algoritmik, pergeseran delegasi, dan celah akuntabilitas yang sulit dilacak setelah sistem bertindak. Studi ini mengangkat persoalan tersebut secara serius. Dengan menggunakan metodologi Riset Ilmu Desain (DSR), studi ini mengembangkan dan memvalidasi Arsitektur Ketahanan Kelembagaan Berlapis untuk AI Berbasis Agen (LIRAA), sebuah kerangka tata kelola empat lapis yang dibangun di atas domain mandat inti bank sentral, yaitu kebijakan moneter, kebijakan sistem pembayaran, dan kebijakan stabilitas keuangan, dengan pengawasan perbankan yang turut diintegrasikan pada yurisdiksi yang relevan. LIRAA memadukan penguatan otoritas kelembagaan, akuntabilitas algoritmik, eskalasi pengawasan adaptif, dan penahanan risiko sistemik ke dalam satu struktur tata kelola yang koheren. Evaluasi melalui penilaian ahli terstruktur dan pengujian stres berbasis skenario menunjukkan kelayakan kelembagaan yang kuat serta kapasitas mitigasi risiko yang bermakna, meskipun para ahli secara konsisten mencatat perlunya ambang batas eskalasi yang lebih jelas dan kodifikasi hukum yang lebih kuat. Yang lebih penting dari temuan ini adalah bahwa stabilitas keuangan dalam sistem pengawasan berbasis AI tidak semata-mata bergantung pada tingkat kecanggihan komputasi. Stabilitas tersebut sangat ditentukan oleh seberapa kuat desain kelembagaan mampu mencegah terjadinya amplifikasi keputusan algoritmik secara serentak yang dapat berlangsung tanpa disadari dalam skala besar. Studi ini berkontribusi pada literatur tata kelola AI dengan memperluas teori risiko sistemik ke ranah tata kelola penularan algoritmik, sekaligus memposisikan arsitektur kelembagaan, bukan sekadar kinerja algoritma, sebagai penentu utama stabilitas di era kecerdasan keuangan yang semakin otonom.
PERAN INOVASI DIGITAL DALAM MENINGKATKAN PENETRASI ASURANSI DI INDONESIA Trioksa Siahaan; Mulya Efendy Siregar; Edy Setiadi; Jerry Marmen; Gerhad Lanuharsa
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 8 No. 6 (2025): COSTING : Journal of Economic, Bussines and Accounting
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/3ettxc56

Abstract

Perkembangan inovasi digital telah membawa perubahan mendasar dalam industri asuransi, khususnya melalui kehadiran insurance technology (InsurTech). Penelitian ini bertujuan untuk menelaah secara sistematis bagaimana inovasi digital berkontribusi terhadap peningkatan penetrasi asuransi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan kerangka PRISMA, mencakup analisis terhadap artikel-artikel terindeks SINTA dan Scopus dalam kurun waktu 2020–2025 sebanyak 12 artikel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, Insurtech mencakup teknologi seperti aplikasi seluler, blockchain, AI, IoT, dan telemedicine yang meningkatkan efisiensi operasional dan pengalaman nasabah. Kedua, inovasi digital ini membawa transformasi signifikan dalam industri asuransi, dengan fokus pada kecerdasan buatan dan blockchain untuk efisiensi dan transparansi. Insurtech memiliki potensi besar untuk mengubah lanskap pasar asuransi, terutama di kalangan konsumen digital-savvy, dengan meningkatkan aksesibilitas, pengalaman interaktif, dan efisiensi manajemen perusahaan. Ketiga, implementasi Insurtech dihadapkan pada hambatan seperti kesenjangan literasi digital, keterbatasan infrastruktur, lemahnya integrasi sistem, serta kebutuhan akan harmonisasi regulasi, keamanan siber, dan edukasi nasabah. Perlindungan data pribadi juga menjadi aspek krusial dalam pengembangan Insurtech. Singkatnya, Insurtech berpotensi mendorong pertumbuhan industri asuransi di era digital jika tantangan implementasi dapat diatasi dengan strategi yang tepat melibatkan teknologi, regulasi, dan edukasi stakeholder. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penetrasi asuransi digital tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi, tetapi juga oleh sinergi antara regulator dan industri dalam membangun layanan digital untuk nasabah asuransi.   Kata Kunci: Inovasi digital, InsurTech, penetrasi asuransi, literasi digital, transformasi digital