Perkembangan deepfake memperluas persoalan ruang digital dari sekadar misinformasi menuju krisis autentisitas, manipulasi identitas, dan penurunan kepercayaan pada konten media. Dalam konteks tersebut, respons mahasiswa terhadap deepfake tidak cukup dijelaskan oleh kemampuan teknis mengenali konten sintetis, tetapi juga oleh kerangka etik yang digunakan untuk menilai, memverifikasi, dan merespons konten. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pemahaman nilai-nilai Pancasila dengan sikap etis mahasiswa terhadap konten deepfake di media sosial. Penelitian menggunakan desain kuantitatif korelasional yang bersifat eksploratif dengan survei potong lintang. Data diperoleh dari 50 respons lengkap mahasiswa yang dikumpulkan secara daring pada 6-10 April 2026 melalui kuesioner Linier 1-5 yang terdiri atas 28 butir pada empat konstruk, yaitu pemahaman tentang deepfake, pemahaman nilai-nilai Pancasila, perilaku verifikasi informasi, dan sikap etis terhadap konten deepfake. Analisis meliputi statistik deskriptif, corrected item-total correlation, Cronbach’s alpha, korelasi Pearson dan Spearman, serta regresi linear sederhana untuk menggambarkan asosiasi linear. Hasil menunjukkan bahwa seluruh variabel berada pada kategori sangat tinggi; rerata tertinggi terdapat pada sikap etis terhadap deepfake (M = 4,498; SD = 0,201), diikuti pemahaman nilai-nilai Pancasila (M = 4,412; SD = 0,299). Pemahaman nilai-nilai Pancasila berhubungan positif dan signifikan dengan sikap etis mahasiswa terhadap deepfake (r = 0,573; p < 0,001; rho = 0,641; p < 0,001). Pada model linear sederhana, koefisien tetap positif (B = 0,386; R² = 0,329; p < 0,001; sig. HC3 = 0,018). Temuan ini menunjukkan adanya asosiasi positif awal antara pemahaman nilai-nilai Pancasila dan sikap etis mahasiswa terhadap deepfake, meskipun hasilnya perlu dibaca secara hati-hati karena instrumen self-report yang digunakan masih bersifat eksploratif.