Pembentukan karakter Muslim pada anak dan remaja secara normatif ditopang oleh tiga pusat pendidikan—rumah, sekolah, dan masyarakat (“jalanan”)—namun dalam praktiknya ketiga ranah tersebut kerap berjalan sendiri-sendiri, saling lepas, bahkan saling meniadakan pesan moral yang dibangun satu sama lain. Penelitian ini bertujuan menganalisis akar penyebab fragmentasi peran antara rumah, sekolah, dan lingkungan pergaulan dalam pembentukan karakter Muslim, serta merumuskan model sinergitas baru yang dapat merajut kembali ketiga lembaga tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus multi-situs dengan data simulasi realistis yang mengacu pada pola temuan lapangan yang lazim dalam literatur sejenis, melibatkan 24 informan (orang tua, guru, tokoh masyarakat, dan siswa) melalui wawancara mendalam, FGD, dan observasi non-partisipan, dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman serta triangulasi sumber. Hasil penelitian mengidentifikasi enam tema penyebab fragmentasi, dengan dominasi gawai dan pengaruh kelompok sebaya (peer group) serta lemahnya komunikasi orang tua-guru sebagai faktor paling menonjol. Penelitian ini merumuskan Model Sinergitas Tripihak Rekonstruktif yang mengubah relasi linear-instruktif menjadi interaksional-dialogis melalui forum tripihak terjadwal, piagam nilai bersama, dan buku penghubung karakter. Simulasi triangulasi menunjukkan peningkatan skor persepsi efektivitas pada seluruh dimensi kolaborasi setelah penerapan model yang diajukan. Penelitian ini berkontribusi pada rekonstruksi ekosistem pendidikan karakter Muslim yang holistik dan adaptif terhadap tantangan era digital.