Ni Wayan Sri Wahyuni
Program Studi Keperawatan, Fakultas Kesehatan, Psikologi Teknik dan Komputer, Universitas Triatma Mulya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Perilaku Kebiasaan Merokok Orang Tua Dengan Kejadian Infeksi Saluran Pernapasan Akut Pada Balita Ni Wayan Sri Wahyuni; Firman Abdulrrahman
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i2.1450

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita. Salah satu faktor risiko yang berperan adalah paparan asap rokok di lingkungan rumah. Perilaku merokok orang tua di dalam rumah menyebabkan anak menjadi perokok pasif yang terpapar zat toksik asap rokok, sehingga dapat mengganggu mekanisme pertahanan paru dan meningkatkan risiko terjadinya ISPA, terutama pada balita dengan daya tahan tubuh yang masih lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku kebiasaan merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita di RSUD Buleleng. Metode penelitian yang digunakan adalah desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh kepala keluarga yang memiliki balita dan berkunjung ke Poli Anak RSUD Buleleng. Besar sampel sebanyak 54 responden yang diambil dengan teknik non probability sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memiliki kebiasaan merokok, yaitu sebanyak 81,5%, dan terdapat hubungan bermakna antara perilaku merokok orang tua dengan kejadian ISPA pada balita (p = 0,036; p < 0,05). Simpulan penelitian ini adalah perilaku merokok orang tua berhubungan signifikan dengan kejadian ISPA pada balita. Implikasi klinis dari penelitian ini menunjukkan pentingnya upaya promotif dan preventif melalui edukasi kepada orang tua serta penerapan lingkungan rumah bebas asap rokok guna menurunkan risiko ISPA pada balita.
Hubungan Tingkat Stres dengan Sindrom Dispepsia pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Triatma Mulya Ni Wayan Sri Wahyuni; Ni Made Dwi Astarina Prajayanti; Eka Lutfiatus Solehah; Putu Ayu Lestarini
Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya Vol. 5 No. 2 (2026): Jurnal Anoa Keperawatan Mandala Waluya (JAKMW)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan dan Profesi Ners. Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54883/jakmw.v5i2.1536

Abstract

Stres merupakan kondisi psikologis yang dapat memengaruhi kesehatan fisik, termasuk gangguan pada sistem pencernaan seperti sindrom dispepsia. Mahasiswa merupakan kelompok yang rentan mengalami stres akibat tuntutan akademik dan adaptasi lingkungan perkuliahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dengan kejadian sindrom dispepsia pada mahasiswa keperawatan di Universitas Triatma Mulya. Penelitian ini menggunakan desain analitik korelasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilaksanakan pada periode April–Juni 2025. Populasi penelitian adalah mahasiswa keperawatan angkatan 2020 dan 2021 di Universitas Triatma Mulya dengan teknik total sampling (n = 116). Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tingkat stres dan kuesioner gejala dispepsia yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Spearman Rank dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan nilai p-value = 0,001 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi r = 0,315, yang menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan kekuatan korelasi lemah hingga sedang dan arah hubungan positif antara tingkat stres dan sindrom dispepsia. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan tingkat stres berpotensi meningkatkan risiko gangguan pencernaan pada mahasiswa. Dalam jangka panjang, kondisi stres yang tidak terkelola dapat berkontribusi terhadap gangguan gastrointestinal kronis yang berdampak pada penurunan kualitas hidup, performa akademik, serta peningkatan beban layanan kesehatan