Yekti Satriyandari
Program Studi Sarjana Kebidanan, Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Efektivitas pijatan oksitosin terhadap peningkatan kadar oksitosin pada ibu menyusui Yekti Satriyandari; Mufdlilah Mufdlilah
Jurnal Asuhan Kebidanan Vol 6 No 1 (2025): Journal of Midwifery Care
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/bpme1715

Abstract

Latar Belakang: Produksi air susu ibu (ASI) sangat dipengaruhi oleh hormon oksitosin yang merangsang refleks let-down. Namun, stres, nyeri, dan trauma dapat menurunkan kadar oksitosin, sehingga menghambat laktasi dini. Sebaliknya, pijatan oksitosin terbukti secara fisiologis meningkatkan kadar hormon oksitosin. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengukur efektivitas pijatan oksitosin manual di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.Metode: Metode penelitian menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan pre test posttest only control group. Sebanyak 60 ibu menyusui hari ke-3 hingga ke-5 dipilih secara purposive dan mendapatkan intervensi pijat oksitosin manual selama 15 menit. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Mann-Whitney dan uji Chi-Square.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan Rata-rata kadar oksitosin meningkat dari 76 menjadi 93 (p = 0,000). Sebagian besar responden juga menunjukkan profil pendukung menyusui yang baik, seperti usia tidak berisiko (93,3%), multipara (56,7%), dan riwayat IMD (66,7%). Faktor psikologis ibu seperti stres dan kecemasan juga turut memengaruhi efektivitas intervensi.Kesimpulan: Pijatan oksitosin manual terbukti secara signifikan meningkatkan kadar oksitosin pada ibu menyusui. Penerapan pijat oksitosin rutin disarankan sebagai intervensi non-farmakologis yang efektif untuk meningkatkan produksi ASI pada ibu pasca-sectio caesarea.
Kesehatan mental dalam perspektif gender: siapa yang lebih rentan Yekti Satriyandari; Nurul Mahmudah; Sinta Julianti
Jurnal Asuhan Kebidanan Vol 6 No 1 (2025): Journal of Midwifery Care
Publisher : Lembaga Penelitian Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan Garawangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34305/jh2q8v89

Abstract

Latar Belakang: Kesehatan mental remaja menunjukkan perbedaan signifikan berdasarkan gender, dimana remaja perempuan lebih rentan terhadap gangguan internalisasi seperti depresi dan kecemasan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja, serta perbedaannya berdasarkan jenis kelamin.Metode: Studi cross-sectional dilakukan pada 139 siswa kelas XI SMA Negeri 1 Godean menggunakan kuesioner skrining gangguan emosional. Data dianalisis dengan uji chi-square.Hasil: Hasil menunjukkan prevalensi gejala gangguan mental yang tinggi, termasuk pikiran untuk mengakhiri hidup (97,1%), namun tidak terdapat hubungan signifikan antara jenis kelamin dan status kesehatan mental (p = 0,968). Meskipun demikian, secara praktis terlihat bahwa remaja perempuan lebih banyak mengalami gangguan emosional dibandingkan laki-laki.Kesimpulan: Pentingnya intervensi kesehatan mental berbasis sekolah yang mempertimbangkan faktor gender dan pengaruh ekosistem digital. Disarankan adanya peningkatan literasi digital, pelatihan guru, serta dukungan keluarga.