Penggunaan teknologi finansial dan perilaku konsumsi Generasi Z di Indonesia telah menciptakan paradigma baru dalam cara remaja mengelola keuangan pribadi. Generasi Z merupakan kelompok demografi terbesar yang mencakup sekitar 27,94% dari total penduduk Indonesia, namun tingkat literasi keuangan mereka masih tergolong sangat rendah, yaitu hanya 44,04% berdasarkan data resmi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Remaja sangat rentan terhadap perilaku belanja berlebihan akibat fenomena self-reward, FOMO (Fear of Missing Out), dan jebakan pinjaman online (pinjol) dengan total utang mencapai Rp14 triliun. Data OJK menunjukkan kelompok usia 19–34 tahun mendominasi 48,65% kredit macet pinjol legal, sementara 73,7% korban pinjol ilegal berasal dari usia 16–35 tahun. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan di SMA Swasta Pembda 1 Gunungsitoli untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai strategi belanja cerdas anti-boncos, pencegahan jebakan pinjol, dan pengenalan investasi digital. Kegiatan dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi tanya jawab, dan refleksi yang membahas mental accounting, efek domino pinjol, cara verifikasi legalitas pinjol di website OJK, serta instrumen investasi digital berisiko rendah seperti reksadana dan deposito. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terhadap perbedaan kebutuhan dan keinginan, bahaya multi-borrowing melalui pinjol ilegal, langkah verifikasi pinjol di website OJK, dan dasar investasi digital dari instrumen rendah risiko. Siswa juga lebih sadar menerapkan mental accounting untuk membagi uang saku ke dalam pos kebutuhan 50%, tabungan 30%, dan gaya hidup 20%. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi keuangan yang partisipatif dan berbasis pengalaman dapat secara efektif memperkuat literasi keuangan remaja, sehingga mereka dapat mengelola keuangan secara bijak dan terhindar dari jeratan utang konsumtif.