ABSTRACT The rapid development of generative Artificial Intelligence (AI) in academic writing has created a need to examine its impact on the quality of Indonesian-language proposal texts. This study investigates the use of AI in proposal writing through a discourse analysis and comparative text approach. A descriptive qualitative method was employed by comparing four proposal drafts: two manually written proposals from the pre-AI era (2018–2019) and two proposals produced in the generative AI era (2024). The analysis focused on lexical-syntactic structure, orthography, contextual relevance of ideas, and operational validity. The findings indicate that AI-generated texts exhibit more systematic language structures and greater adherence to linguistic conventions but tend to present more generalized and less contextualized ideas. Manual editing of AI-generated texts gave rise to a hybrid error phenomenon, characterized by inconsistencies in writing that reflect weaknesses in the text integration and revision process. In contrast, proposals written entirely by humans demonstrated stronger performance in presenting technical details, timelines, and contextually relevant operational information. The study concludes that AI is most effective as a linguistic support tool, whereas technical planning, budget formulation, and the development of contextualized ideas still require human judgment and control. ABSTRAK Perkembangan Artificial Intelligence (AI) generatif dalam penulisan akademik mendorong perlunya kajian terhadap pengaruhnya pada kualitas teks proposal Bahasa Indonesia. Penelitian ini menganalisis pemanfaatan AI dalam penulisan proposal melalui pendekatan analisis wacana dan komparatif teks. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan membandingkan empat draf proposal, terdiri atas dua proposal yang ditulis secara manual pada era pra-AI (2018–2019) dan dua proposal yang disusun pada era AI generatif (2024). Analisis dilakukan berdasarkan aspek leksikal-sintaksis, ortografi, kontekstualitas gagasan, dan validitas operasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AI menghasilkan struktur bahasa yang lebih sistematis dan sesuai kaidah, tetapi cenderung menghadirkan gagasan yang lebih umum dan kurang kontekstual. Penyuntingan manual terhadap teks AI memunculkan fenomena hybrid error, yaitu ketidakkonsistenan penulisan yang menunjukkan kelemahan dalam proses integrasi naskah. Sebaliknya, proposal yang ditulis sepenuhnya oleh manusia lebih unggul dalam menyajikan rincian teknis, linimasa, dan informasi operasional yang relevan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa AI efektif sebagai pendukung aspek kebahasaan, sedangkan perencanaan teknis, penyusunan anggaran, dan pengembangan gagasan kontekstual tetap memerlukan kendali manusia.