This Author published in this journals
All Journal Khidmat
Puput Rosyidah
UIN Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Dampak Sharenting terhadap Pembentukan Eksistensi Diri Child Influencer dalam Perspektif Teori Erik Erikson Puput Rosyidah; Ellen Prima
Khidmat Vol 4 No 1 (2026)
Publisher : CV Edu Tech Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65311/j.khidmat.v4i1.2005

Abstract

Fenomena sharenting atau kebiasaan orang tua membagikan aktivitas anak di media sosial kini bergeser menjadi komersialisasi melalui peran child-influencer. Kegelisahan akademik dalam penelitian ini berpusat pada dampak paparan digital yang intensif dan privasi yang tereduksi terhadap kondisi psikologis anak, khususnya dalam fase krusial pembentukan identitas diri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena tersebut melalui pisau analisis teori perkembangan psikososial Erik Erikson. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan dari berbagai literatur ilmiah, artikel jurnal, dan dokumentasi aktivitas child-influencer di media sosial yang kemudian dianalisis secara konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas sharenting yang berlebihan berpotensi mengaburkan batasan antara ruang privat dan publik bagi anak. Dalam perspektif Teori Erik Erikson, anak yang berada pada tahap industry vs inferiority dan beralih ke identity vs role confusion mengalami hambatan dalam mengeksplorasi diri secara natural. Eksistensi diri child-influencer cenderung terbentuk berdasarkan validasi digital (jumlah pengikut, suka, dan komentar) dan ekspektasi pasar, bukan atas kesadaran ego yang utuh. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa sharenting pada child-influencer membawa risiko krisis identitas dini dan kebingungan peran. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran etis dan regulasi dari orang tua dalam mengontrol batasan digital demi menjaga kesehatan mental serta eksistensi diri anak yang autentik.