Dyaricha Amanda Cahya K
Program Studi Magister Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Setia Budi

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Analisis Kinerja Menggunakan Pendekatan Balanced Scorecard Pada Klinik X dan Y Di Kabupaten Sragen Dyaricha Amanda Cahya K; Ika Purwidyaningrum; Wiwin Herdwiani
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.955

Abstract

Pelayanan kefarmasian di instalasi farmasi klinik menghadapi tantangan seperti waktu tunggu panjang, ketersediaan obat rendah, dan kepuasan pasien minim akibat kurangnya edukasi farmasi. Pengukuran kinerja berfokus keuangan dianggap tidak komprehensif, sehingga diperlukan Balanced Scorecard (BSC) yang mengevaluasi empat perspektif: keuangan, pelanggan, proses bisnis internal, serta pembelajaran dan pertumbuhan. Penelitian ini membandingkan kinerja instalasi farmasi Klinik X (terakreditasi) dan Klinik Y (belum terakreditasi) di Kabupaten Sragen, dilengkapi analisis SWOT untuk strategi perbaikan. Penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan BSC dan SERVQUAL untuk mengukur kepuasan pasien melalui dimensi tangible, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Populasi adalah karyawan farmasi, pasien rawat jalan, dan keluarga di 83 klinik pratama Sragen; sampel purposive dari dua klinik (satu terakreditasi, satu belum). Data primer dari kuesioner (valid dan reliabel, rhitung > rtabel, Cronbach’s Alpha >0,6), data sekunder dari laporan klinik. Analisis meliputi gap skor dan SWOT. Klinik X unggul dengan skor SERVQUAL lebih tinggi (tangible 2,44; reliability 2,59; responsiveness 2,48; assurance 2,51; empathy 2,52) dan gap lebih kecil (rata-rata -0,346) dibanding Klinik Y (skor rata-rata 2,49; gap -0,102). Ketepatan peracikan obat Klinik X 87,9% vs 71,2% Klinik Y. Kedua klinik di kuadran 1 matriks SWOT (kekuatan-peluang dominan). Akreditasi Klinik X meningkatkan reliability, assurance, dan empathy, tapi gap negatif pada tangible (-0,466) dan responsiveness akibat penumpukan resep serta infrastruktur lemah. Klinik Y lemah di assurance (kebocoran gudang). SWOT mengidentifikasi kekuatan compliance SOP, kelemahan understaffing, peluang digitalisasi, ancaman persaingan. BSC membuktikan akreditasi mendorong kinerja superior. Rekomendasi: digitalisasi antrian, pelatihan empati, optimalisasi fasilitas, dan monitoring KPI untuk kepuasan >85% dan efisiensi 90%.