Abdul Basith
Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri Bojonegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hubungan Kepatuhan Pengobatan Kombinasi Amlodipine Dan Candesartan Terhadap Efek Terapi Pasien Hipertensi Di Puskesmas Kapuan, Blora Satriyo Tantyo Danu Saputro; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Budy Cahayany Halimatun Ni’mah
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1123

Abstract

Di Indonesia maupun di seluruh dunia, hipertensi merupakan masalah kesehatan yang serius. Seringkali hipertensi tidak terdeteksi atau tidak diobati dengan baik, sehingga meningkatkan risiko konsekuensi seperti penyakit jantung, gagal ginjal, dan stroke. Pasien dengan hipertensi yang memerlukan terapi jangka panjang dan modifikasi gaya hidup terkadang kesulitan dalam mematuhi pengobatan hipertensi. Amlodipin seringkali dikombinasi dengan candesartan karena dapat meningkatkan kepatuhan dan kontrol hipertensi yang adekuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti hubungan antara kepatuhan pengobatan pasien yang menerima kombinasi amlodipine dan candesartan dengan efek terapeutik. Penelitian ini merupakan cross-sectional survey di Puskesmas Kapuan Blora pada bulan Desember 2025 menggunakan teknik purposive sampling. Kuesioner MMAS-8 (Morisky Medication Adherence Scale-8) digunakan untuk mengevaluasi kepatuhan pengobatan, dan pedoman manajemen hipertensi kementrian kesehatan RI 2021 digunakan untuk mengevaluasi efek terapeutik pasien. Jumlah sampel pada penelitian ini yaitu sebanyak 31 pasien. Temuan menunjukkan bahwa pasien 61,3% patuh dan tekanan darah terkontrol; 38,7% tidak patuh dan tekanan darah tidak terkontrol. Faktor dominan yang berkontribusi terhadap ketidakpatuhan pengobatan pada penelitian kali ini yaitu lupa mengonsumsi obat, penghentian terapi tanpa konsultasi dengan tenaga kesehatan, dan timbulnya ketidaknyamanan atau penolakan untuk minum obat setiap hari. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan pengobatan dan efek terapeutik pasien yang menerima amlodipine dan candesartan, dengan nilai Fisher’s Exact test sig (2 Sided) <0,001.
Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Antibiotik “Cefadroxil” pada Pasien Dewasa di Puskesmas Tambakrejo Bojonegoro Tri Wahyuni Puji Lestari; Titi Agni Hutahaen; Abdul Basith; Novita Dyah Andriyana
Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Mandala Pharmacon Indonesia 
Publisher : Program Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpi.v12i1.1127

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan risiko terjadinya resistensi antimikroba, terutama di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Cefadroxil merupakan salah satu antibiotik yang sering diresepkan di puskesmas untuk menangani infeksi bakteri ringan hingga sedang sehingga evaluasi rasionalitas penggunaannya perlu dilakukan secara berkala. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis tingkat rasionalitas penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan di Puskesmas Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro berdasarkan prinsip 5 Tepat meliputi tepat pasien (tidak terdapat kontraindikasi), tepat indikasi (sesuai diagnosis menurut Formularium Nasional dan Pedoman Terapi Nasional), tepat obat (pemilihan antibiotik lini yang direkomendasikan), tepat dosis (dosis dan frekuensi sesuai standar), dan tepat waktu pemberian (durasi terapi sesuai pedoman). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain retrospektif menggunakan data rekam medis periode Juni–September 2025. Dari total 119 pasien pengguna antibiotik diperoleh sampel sebanyak 55 pasien menggunakan rumus Slovin. Penilaian rasionalitas dilakukan dengan membandingkan diagnosis, pemilihan obat, dosis, frekuensi, dan lama pemberian terhadap standar terapi nasional. Hasil analisis menunjukkan ketepatan pasien sebesar 100%, ketepatan indikasi 83,6%, ketepatan obat 85,5%, ketepatan dosis 90,9%, dan ketepatan waktu pemberian 87,3%. Secara umum, penggunaan cefadroxil di Puskesmas Tambakrejo telah memenuhi sebagian besar kriteria penggunaan obat rasional. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik cefadroxil pada pasien dewasa peserta BPJS Kesehatan periode Juni–September 2025 tergolong rasional, namun masih diperlukan peningkatan pada aspek ketepatan indikasi dan pemilihan obat untuk mendukung penggunaan antibiotik yang lebih optimal serta mencegah resistensi antimikroba.