Minyak atsiri biji pala (Myristica fragrans) memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan, dan antimikroba sehingga berpotensi mempercepat penyembuhan luka bakar. Minyak atsiri bersifat lipofilik sehingga diformulasikan dalam bentuk emulgel yang dapat menghantarkan zat aktif yang sukar larut dalam air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi HPMC terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas sediaan emulgel terhadap penyembuhan luka bakar derajat IIa, serta menentukan formula terbaik. Penelitian diawali dengan identifikasi minyak atsiri biji pala meliputi pemeriksaan organoleptik, berat jenis, indeks bias, kelarutan dalam etanol, dan analisis GC-MS, serta pembuatan sediaan emulgel minyak atsiri biji pala 3% dengan variasi konsentrasi HPMC sebesar 4%, 5%, dan 6%. Evaluasi mutu fisik sediaan emulgel meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, tipe emulsi, diameter globul, dan stabilitas. Data dianalisis menggunakan One Way ANOVA dan dilanjutkan uji post hoc Tukey. Aktivitas penyembuhan luka bakar diuji pada tiga ekor kelinci yang diberikan luka bakar derajat IIa dengan formula berbeda selama 12 hari. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal–Wallis dan dilanjutkan uji Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi konsentrasi HPMC berpengaruh terhadap mutu fisik, stabilitas, dan aktivitas penyembuhan luka bakar sediaan emulgel minyak atsiri biji pala. HPMC 5% menghasilkan sediaan homogen, pH 7,13 ± 0,03, viskositas 13.066 ± 488,8 cPs, daya sebar 6,47 ± 0,23 cm, daya lekat 2,96 ± 0,07 detik, diameter globul < 2 µm, serta stabil selama pengujian. Persentase penyembuhan luka pada hari ke-12 untuk F1, F2, dan F3 masing-masing sebesar 100%, sedangkan kontrol negatif sebesar 77,08%. Formula dengan HPMC 6% menunjukkan kecepatan penyembuhan luka yang lebih tinggi pada beberapa hari pengamatan, namun formula HPMC 5% memberikan keseimbangan mutu fisik, stabilitas, dan efektivitas penyembuhan luka bakar derajat IIa yang paling baik.