Hadiyanto Hadiyanto
Master's Program of English Education, Universitas Jambi, Indonesia

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

NAVIGATING ENGLISH AS A LINGUA FRANCA IN A CROSS-CULTURAL CLASSROOM: A PHENOMENOLOGICAL STUDY OF AN INDONESIAN SEA-TEACHER’S PEDAGOGICAL ADAPTATION Agustina Gultom; Sri Wachyunni; Hustarna Hustarna; Mukhlash Abrar; Hadiyanto Hadiyanto
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11634

Abstract

ABSTRACT Teaching in another country can broaden pre-service teachers’ understanding of classroom practice; however, encounters with diverse varieties of English and different interactional conventions often require communicative and pedagogical adjustments that are not fully addressed in initial preparation. This article examines the experience of an Indonesian pre-service English teacher during a one-month SEA-Teacher placement at a public junior high school in Iloilo Province, Philippines. It explores how the participant navigated communicative and pedagogical uncertainty, interpreted student responses, modified instructional decisions, and reconsidered her understanding of the teacher’s role. An interpretive single-case study informed by hermeneutic phenomenology was used to examine this experience. The data comprised three serial interviews, twenty daily reflective journal entries, eight revised lesson plans, twelve photographs of classroom whiteboards, and four mentor notes. Using Reflexive Thematic Analysis, the data were read repeatedly, coded inductively, compared across sources, and developed into interconnected themes. Unfamiliar pronunciation, classroom expressions, and student silence prompted the participant to simplify instructions, allow multilingual responses, and use examples grounded in local life. The study proposes the Adaptive Navigation Cycle as a single-case conceptual synthesis linking dissonance, contextual meaning-making, pedagogical improvisation, and professional reflection. The findings point to the need for preparation in English as a Lingua Franca, structured reflective journaling, and cross-border mentor support throughout international teaching mobility. ABSTRAK Pengalaman mengajar di negara lain dapat memperluas cara calon guru memahami kelas, tetapi perjumpaan dengan ragam bahasa Inggris dan kebiasaan interaksi yang berbeda sering menuntut penyesuaian komunikatif dan pedagogis yang tidak sepenuhnya tercakup dalam persiapan awal. Artikel ini mengkaji pengalaman seorang calon guru bahasa Inggris asal Indonesia selama penempatan SEA-Teacher satu bulan di sebuah sekolah menengah pertama negeri di Provinsi Iloilo, Filipina. Kajian menelusuri cara partisipan menghadapi ketidakpastian komunikatif dan pedagogis, menafsirkan respons siswa, mengubah keputusan pembelajaran, serta menata ulang pemahamannya tentang peran guru. Studi kasus tunggal interpretatif dengan pendekatan fenomenologi hermeneutik digunakan untuk membaca pengalaman tersebut. Data mencakup tiga wawancara serial, dua puluh jurnal reflektif harian, delapan rencana pembelajaran revisi, dua belas dokumentasi papan tulis, dan empat catatan mentor. Melalui Reflexive Thematic Analysis, data dibaca berulang, dikodekan secara induktif, dibandingkan lintas sumber, lalu dirangkai menjadi tema-tema yang saling berhubungan. Ketidakakraban terhadap pelafalan, ekspresi kelas, dan keheningan siswa mendorong partisipan menyederhanakan instruksi, membuka respons multibahasa, serta menggunakan contoh yang dekat dengan kehidupan lokal. Studi ini mengajukan Adaptive Navigation Cycle sebagai sintesis konseptual berbasis satu kasus yang menghubungkan disonansi, pemaknaan konteks, improvisasi pedagogis, dan refleksi profesional. Temuan ini mengarah pada perlunya pembekalan English as a Lingua Franca, jurnal reflektif terstruktur, dan pendampingan mentor lintas negara selama mobilitas mengajar.
GENERATIVE AI TOOLS AND EFL LEARNER INDEPENDENCE: ARE THEY BUILDING INDEPENDENT LEARNING OR DEPENDENCE ON TOOLS Rynda Mayasari; Hadiyanto Hadiyanto; Nyimas Triyana Safitri
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11635

Abstract

ABSTRACT The rapid advancement of generative artificial intelligence (AI) has transformed academic writing practices in English as a Foreign Language (EFL), while simultaneously raising pedagogical concerns about whether AI strengthens learner independence or promotes cognitive dependency. Addressing this issue, the present study synthesises empirical evidence to explain how generative AI shapes these contrasting outcomes in EFL/ESL academic writing within the global higher education context. The study employed a Systematic Literature Review guided by the PRISMA 2020 reporting framework. The literature search covered six information sources and involved systematic identification, screening, eligibility assessment, and thematic synthesis of 34 open-access, peer-reviewed articles published between 2022 and 2025. The synthesis revealed that AI enhances writing self-efficacy, self-regulated learning, metacognitive awareness, and independent writing performance when used as a form of scaffolding that encourages reflection, critical evaluation, and active learner engagement throughout the writing process. Conversely, using AI to replace idea generation, decision-making, and revision may foster cognitive, behavioural, and emotional dependency by reducing learners' intellectual involvement in writing. The principal contribution of this review is the development of the scaffold-to-dependency framework, demonstrating that the educational impact of AI is shaped not by the technology itself but by pedagogical design, AI literacy, learners' critical engagement, and the regulation of AI use during learning. These findings provide a conceptual foundation for developing curricula, assessment practices, and institutional policies that integrate AI responsibly while sustaining the development of independent academic writing. ABSTRAK Perkembangan pesat generative artificial intelligence (AI) telah mengubah praktik penulisan akademik English as a Foreign Language (EFL), sekaligus memunculkan perdebatan mengenai perannya dalam memperkuat kemandirian belajar atau justru meningkatkan ketergantungan kognitif mahasiswa. Berangkat dari isu tersebut, penelitian ini mensintesis bukti empiris untuk menjelaskan bagaimana AI generatif membentuk kedua kecenderungan tersebut dalam penulisan akademik EFL/ESL pada konteks pendidikan tinggi global. Kajian dilakukan menggunakan desain Systematic Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Penelusuran literatur dilakukan melalui enam sumber informasi, dilanjutkan dengan proses identifikasi, seleksi, penilaian kelayakan, dan sintesis tematik terhadap 34 artikel peer-reviewed berakses terbuka yang diterbitkan pada periode 2022–2025. Sintesis menunjukkan bahwa AI mampu memperkuat efikasi diri, regulasi diri, kesadaran metakognitif, serta kemampuan menulis mandiri ketika dimanfaatkan sebagai scaffolding yang mendorong refleksi, evaluasi kritis, dan keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses menulis. Sebaliknya, penggunaan AI sebagai pengganti penyusunan gagasan, pengambilan keputusan, dan revisi berpotensi memunculkan ketergantungan kognitif, perilaku, dan emosional yang mengurangi keterlibatan intelektual penulis. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada perumusan kerangka scaffold-to-dependency, yang menunjukkan bahwa dampak AI tidak ditentukan oleh teknologinya, melainkan oleh desain pedagogis, literasi AI, keterlibatan kritis mahasiswa, dan pengaturan penggunaan AI selama proses pembelajaran. Temuan ini memberikan dasar konseptual bagi pengembangan kurikulum, asesmen, dan kebijakan pendidikan tinggi yang mengintegrasikan AI secara bertanggung jawab sekaligus menjaga perkembangan kemampuan menulis akademik secara mandiri.