Meita Santi Budiani
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Negeri Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN WORK-LIFE BALANCE KARYAWAN BANK PT X Lubaiby Tafuzi; Meita Santi Budiani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.12205

Abstract

ABSTRACT Work-life balance is an important aspect that contributes to employee well-being and productivity, particularly in the banking sector, which is characterized by high job demands, strict performance targets, and continuous service pressure. In such conditions, social support is considered one of the factors that can help employees manage work demands while maintaining balance between their professional and personal lives. This study aimed to examine the relationship between social support and work-life balance among employees of PT. X Bank in Surabaya. A quantitative approach with a correlational design was employed. The sample consisted of 100 back-office employees selected using a total sampling technique. Data were collected using a Social Support Scale and a Work-Life Balance Scale and were analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with SPSS version 27.0. The findings revealed that most respondents reported moderate levels of social support and work-life balance. The correlation analysis indicated a positive and significant relationship between social support and work-life balance (r = 0.210; p = 0.036). These results suggest that higher levels of social support are associated with a greater ability to maintain balance between work responsibilities and personal life. Although the strength of the relationship was relatively weak, social support remains an important factor in fostering work-life balance among employees in the banking sector. ABSTRAK Work-life balance merupakan aspek penting yang berkontribusi terhadap kesejahteraan dan produktivitas karyawan, terutama pada sektor perbankan yang memiliki tuntutan kerja tinggi, target yang ketat, serta tekanan pelayanan yang berkelanjutan. Dalam kondisi tersebut, dukungan sosial dipandang sebagai salah satu faktor yang dapat membantu karyawan mengelola tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dan work-life balance pada staf Bank PT. X di Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian terdiri atas 100 karyawan back office yang dipilih menggunakan teknik sampel jenuh. Data dikumpulkan menggunakan skala dukungan sosial dan skala work-life balance, kemudian dianalisis dengan uji korelasi Pearson Product Moment menggunakan SPSS 27.0. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat dukungan sosial dan work-life balance pada kategori sedang. Uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara dukungan sosial dan work-life balance (r = 0,210; p = 0,036). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima karyawan, semakin baik kemampuan mereka dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Meskipun kekuatan hubungan tergolong rendah, dukungan sosial tetap menjadi faktor yang berperan dalam mendukung terciptanya work-life balance pada karyawan sektor perbankan.
HUBUNGAN ANTARA PERCEIVED ORGANIZATIONAL SUPPORT DENGAN JOB EMBEDDEDNESS PADA KARYAWAN DI PT. X. Erika Feby Pratiwi; Meita Santi Budiani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12238

Abstract

ABSTRACT The rapid expansion of Indonesia's manufacturing industry has increased the importance of maintaining a workforce that remains strongly connected to the organization. Within this context, employees' perceptions of organizational support are considered a key factor influencing their willingness to stay committed and contribute to organizational performance. This study examined the association between perceived organizational support and job embeddedness among employees of PT. X. The research involved the entire population of 102 employees using a saturated sampling technique. Data were collected through a questionnaire and analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with SPSS version 30.0.0 for Windows. The findings revealed a significant positive relationship between perceived organizational support and job embeddedness, with a correlation coefficient of r = .659 and a significance level of p < .05. These results indicate that employees who perceive greater organizational support tend to exhibit stronger attachment to both their jobs and the organization. The findings further suggest that organizational practices promoting fairness, a supportive work environment, and opportunities for training and professional development contribute to strengthening employees' job embeddedness. Therefore, reinforcing organizational support may serve as an effective strategy for retaining committed employees while enhancing organizational sustainability and performance within the manufacturing sector. ABSTRAK Perkembangan industri manufaktur yang semakin kompetitif menempatkan keterlekatan karyawan sebagai salah satu faktor penting dalam menjaga keberlangsungan produktivitas organisasi. Dalam konteks tersebut, persepsi karyawan terhadap dukungan yang diberikan organisasi dipandang berpotensi membentuk keinginan untuk tetap bertahan dan berkontribusi di tempat kerja. Penelitian ini mengeksplorasi keterkaitan antara perceived organizational support dan job embeddedness pada karyawan PT. X. Seluruh populasi yang berjumlah 102 karyawan dilibatkan sebagai responden melalui teknik sampel jenuh. Data diperoleh menggunakan instrumen kuesioner dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson Product Moment menggunakan SPSS versi 30.0.0 for Windows. Hasil analisis memperlihatkan adanya hubungan positif yang signifikan antara perceived organizational support dan job embeddedness dengan koefisien korelasi sebesar r = .659 dan nilai signifikansi p < 0,05. Temuan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan dukungan yang dirasakan karyawan dari organisasi diikuti oleh semakin kuatnya keterlekatan mereka terhadap pekerjaan dan organisasi. Kondisi ini mengindikasikan bahwa praktik organisasi yang memberikan perlakuan adil, menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, serta menyediakan kesempatan pelatihan dan pengembangan berkontribusi dalam memperkuat keterlekatan kerja. Dengan demikian, penguatan dukungan organisasi dapat dipertimbangkan sebagai strategi untuk mempertahankan sumber daya manusia yang berkomitmen sekaligus mendukung keberlangsungan kinerja organisasi di sektor manufaktur.
HUBUNGAN ANTARA SELF-EFFICACY DAN KESIAPAN KERJA PADA MAHASISWA TINGKAT AKHIR UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Alfina Dhiya Islami; Meita Santi Budiani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i3.12779

Abstract

ABSTRACT   This study aimed to examine the relationship between self-efficacy and work readiness among final-year students at Universitas Negeri Surabaya. Work readiness is an important factor in preparing students for the transition into the workforce, as it is influenced not only by academic competence but also by individuals’ confidence in their ability to cope with various job demands. The study employed a quantitative approach with a correlational design involving 380 final-year students selected through quota random sampling. Data were collected using validated and reliable Likert-scale questionnaires and analyzed using the Pearson Product-Moment correlation test with the assistance of SPSS. The findings revealed a positive and significant relationship between self-efficacy and work readiness, indicated by a correlation coefficient of 0.639 and a significance value of 0.000 (p < 0.05). The coefficient of determination (R Square) of 0.409 indicates that self-efficacy contributes 40.9% to students’ work readiness, while the remaining 59.1% is influenced by other factors beyond the scope of this study. These findings suggest that enhancing self-efficacy has the potential to strengthen students’ readiness to enter the workforce. Therefore, the results of this study may serve as a reference for higher education institutions in designing work readiness development programs that focus not only on academic competence but also on strengthening students’ psychological aspects, particularly self-efficacy. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dengan kesiapan kerja pada mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Surabaya. Kesiapan kerja menjadi salah satu faktor penting dalam menghadapi transisi menuju dunia kerja karena dipengaruhi tidak hanya oleh kompetensi akademik, tetapi juga keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan berbagai tuntutan pekerjaan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional yang melibatkan 380 mahasiswa tingkat akhir sebagai sampel, dipilih menggunakan teknik quota random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner skala Likert yang telah memenuhi uji validitas dan reliabilitas, kemudian dianalisis menggunakan korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara self-efficacy dengan kesiapan kerja, yang ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,639 dengan nilai signifikansi 0,000 (Sig. < 0,05). Nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0,409 mengindikasikan bahwa self-efficacy memberikan kontribusi sebesar 40,9% terhadap kesiapan kerja mahasiswa, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan self-efficacy berpotensi memperkuat kesiapan mahasiswa dalam memasuki dunia kerja. Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar bagi perguruan tinggi dalam merancang program pengembangan kesiapan kerja yang tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada penguatan aspek psikologis mahasiswa, khususnya self-efficacy.