This Author published in this journals
All Journal MEMACE
Rudi erwin
Institut Pendidikan Nusantara Global

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KONFLIK SOSIAL DALAM NOVEL MEDULLA SINCULASIS KARYA PAOX IBEN: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Rudi erwin
MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing Vol. 4 No. 2 (2026): MEMACE: Jurnal Linguistik, Pendidikan Bahasa Indonesia, dan Asing
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/memace.v4i2.6634

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk-bentuk konflik sosial yang terdapat dalam novel Medulla Sinculasis karya Paox Iben serta menjelaskan faktor-faktor penyebab munculnya konflik tersebut melalui pendekatan sosiologi sastra. Novel ini mengangkat berbagai persoalan sosial masyarakat Lombok, khususnya kehidupan masyarakat marginal yang berhadapan dengan kekuatan ekonomi, politik, dan budaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis isi. Data penelitian berupa kutipan-kutipan naratif dan dialog yang mengandung konflik sosial dalam novel. Analisis dilakukan berdasarkan teori konflik sosial yang dikemukakan oleh Lewis A. Coser dan pendekatan sosiologi sastra yang memandang karya sastra sebagai representasi realitas sosial masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik sosial dalam novel Medulla Sinculasis meliputi konflik antara individu dengan kelompok, konflik antarkelompok sosial, konflik antara masyarakat marginal dengan pemegang kekuasaan, konflik ekonomi, konflik budaya, serta konflik lingkungan. Konflik-konflik tersebut muncul akibat adanya ketimpangan sosial, perebutan sumber daya, dominasi kekuasaan, marginalisasi masyarakat kecil, dan perbedaan kepentingan antar kelompok. Tokoh Nuruda sebagai tokoh utama mengalami transformasi dari seorang wisatawan menjadi aktivis sosial yang berusaha memperjuangkan hak-hak masyarakat marginal di Ampenan. Namun perjuangannya berhadapan dengan struktur kekuasaan yang lebih kuat sehingga berakhir tragis. Novel ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi media kritik sosial terhadap praktik ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat modern.