The rapid development of digital technology has significantly affected human life, not only in social and cultural domains but also in spiritual growth and the quality of faith. On one hand, digitalization opens new spaces for communication, information, and effective ministry; on the other hand, it presents challenges through the rise of digital sin that contributes to a moral crisis within Christian communities. Observable phenomena include increasing digital consumerism, the spread of negative content, and the decline of spiritual sensitivity in the use of digital media. The excessive use of technology, the proliferation of hoaxes, and various practices that undermine moral integrity illustrate the severity of the crisis faced by the church today. This study aims to analyze the concepts of digital sin and moral crisis from a Christian theological perspective and to formulate contextual and innovative Christian leadership strategies for shaping morality, strengthening character, and nurturing contemporary faith in the digital era. This research employs a qualitative method with a literature-based approach. The findings indicate that Christian leadership rooted in the theology and spirituality of Christ is capable of fostering digital ethical awareness, strengthening spiritual character, and enhancing the quality of faith amid digital transformation. With contextual strategies grounded in Christ-centered values, Christian leadership plays a vital role in character formation, fortifying contemporary faith, and guiding believers to remain faithful to Gospel values within an increasingly digitalized environment. Consequently, this study concludes that adaptive, visionary, and Christ-centered leadership is essential for confronting the challenges of digital sin and serves as a foundational pathway for restoring moral integrity and strengthening the faith of believers in the complexities of modern digitalization. AbstrakPerkembangan teknologi digital telah membawa dampak yang signifikan terhadap kehidupan manusia, baik dalam ranah sosial, kebudayaan maupun kerohanian yaitu iman. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang baru bagi komunikasi, informasi, dan pelayanan yang maksimal, namun di sisi lain menghadirkan tantangan berupa munculnya dosa digital yang mendorong krisis moralitas di tengah umat Kristen. Fenomena yang terlihat, misalnya meningkatnya perilaku konsumtif digital, penyebaran konten negatif, serta menurunnya kepekaan spiritual umat dalam penggunaan media digital. Penggunaan teknologi secara berlebihan, maraknya hoaks, serta berbagai praktik yang merusak moralitas menjadi bukti nyata dari krisis yang dihadapi gereja masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep dosa digital dan krisis moralitas dalam perspektif teologi Kristen serta merumuskan strategi kepemimpinan Kristen yang kontekstual dan inovatif dalam membentuk moralitas, karakter umat, dan penguatan iman kontemporer di era digital. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan Kristen yang berakar pada teologi dan spiritualitas Kristus mampu menumbuhkan kesadaran etis digital, memperkuat karakter rohani, dan meningkatkan kualitas iman umat di tengah arus digitalisasi. Dengan strategi yang kontekstual dan berbasis nilai-nilai Kristus, kepemimpinan Kristen terbukti memainkan peran penting dalam membentuk karakter, memperkuat iman kontemporer, serta menuntun umat untuk tetap setia pada nilai-nilai Injil di era digital. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa kepemimpinan Kristen yang adaptif, visioner, dan berpusat pada teladan Kristus merupakan kunci dalam menghadapi tantangan dosa digital sekaligus menjadi fondasi bagi pemulihan moralitas dan penguatan iman umat di tengah dinamika digitalisasi modern.