Erpi Nurdin
Program Studi Teknologi Laboratorium Medis

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Profil Sensitivitas Antibiotik terhadap Isolat Bakteri dari Spesimen Sputum Pasien ISPA di Puskesmas Kota Ternate Erpi Nurdin; Mukhtasyam Zuchrullah; Apriany Lessy
Jurnal Pharmacia Mandala Waluya Vol. 5 No. 3 (2026): Jurnal Pharmacia Mandala Waluya
Publisher : Prodi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit infeksi yang paling sering dijumpai di fasilitas pelayanan kesehatan dan menjadi penyebab utama morbiditas serta mortalitas. Penggunaan antibiotik sebagai terapi ISPA seringkali tidak didahului oleh uji sensitivitas, sehingga berpotensi menimbulkan resistensi bakteri. Untuk mengetahui sensitivitas bakteri yang diisolasi dari spesimen sputum penderita ISPA terhadap beberapa jenis antibiotik serta mengidentifikasi antibiotik yang paling efektif. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif pada 30 sampel sputum pasien ISPA di empat Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Ternate, yaitu Puskesmas Siko, Kota, Kalumpang, dan Kalumata. Metode uji sensivitas yang digunakan adalah metode difusi cakram (Kirby-Bauer) terhadap empat antibiotik yaitu amoksisilin, siprofloksasin, gentamisin, dan levofloksasin. Hasil: Amoksisilin menunjukkantingkat resistensi yang tinggi pada Staphylococcus aureus (81,2%), Staphylococcus epidermidis (70%), dan Proteus mirabilis (100%), sedangkan Streptococcus pyogenes didominasi kategori intermediate (66,7%). Siprofloksasin dan gentamisin menunjukkan aktivitas antibakteri yang sangat baik dengan tingkat sensitivitas 100% pada Staphylococcus aureus, S. epidermidis, dan Proteus mirabilis, serta sensitivitas sebesar 66,7% pada Streptococcus pyogenes. Levofloksasin juga memperlihatkan efektivitas yang tinggi dengan sensitivitas sebesar 87,5% pada Staphylococcus aureus, 80% pada Staphylococcus epidermidis, serta 100% pada Streptococcus pyogenes dan Proteus mirabilis. Siprofloksasin, gentamisin, dan levofloksasin memiliki aktivitas yang lebih efektif dibandingkan amoksisilin terhadapbakteri yang diuji. Tingginya tingkat resistensi terhadap amoksisilin menunjukkan perlunya penggunaan antibiotik secara rasional berdasarkan hasil uji sensitivitas untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan meminimalkan perkembangan resistensi bakteri
Deteksi Bakteri Patogen ISPA melalui Kultur Sputum di Wilayah Kerja Puskesmas Ternate Erpi Nurdin; mukhtasyam zuchrullah; Nadia Sabrina; D. Hi Rauf
Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna Vol 5 No 2 (2026): Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Dan Kesehatan (ITK) Avicenna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69677/avicenna.v5i2.354

Abstract

Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan infeksi akut pada saluran pernapasan atas atau bawah yang disebabkan oleh virus atau bakteri yang berlangsung 14 hari. Seringkali gejala ISPA diawali dengan panas disertai salah satu atau lebih dari gejala, tenggorokan sakit atau nyeri telan, pilek, batuk kering atau batuk berdahak. ISPA memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan komplikasi serius bila tidak ditangani secara tepat. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri penyebab ISPA melalui kultur sputum pada pasien dewasa di beberapa Puskesmas wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Ternate. Metode : Penelitian ini menggunakan desain deskriptif eksperimen laboratorium dengan 30 sampel sputum pasien dewasa yang menunjukkan gejala ISPA, termasuk batuk, sesak, dan tenggorokan gatal, selama periode Januari hingga Februari 2026. Identifikasi bakteri dilakukan melalui kombinasi metode kultur pada media selektif, uji biokimia, dan pewarnaan Gram untuk menentukan jenis bakteri dan dominansi Gram positif atau negatif. Hasil: Penelitian menunjukkan dominasi bakteri Gram positif, yakni Staphylococcus aureus (55%), Staphylococcus epidermidis (29%), Streptococcus pyogenes (13%), dan bakteri Gram negatif Proteus mirabilis (3%). Kesimpulan: ISPA lebih sering terjadi pada laki-laki, ditandai batuk, sesak, dan tenggorokan gatal, dengan dominasi bakteri Gram positif terutama Staphylococcus aureus.