Devi Fahdilla
Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Medan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kajian Seni Rupa Klasik pada Arca Pangulubalang sebagai Warisan Budaya Batak di Sumatera Utara Gustira Widjayanti; Devi Fahdilla; Muhammad Dzaky; Wahyu Tri Atmojo
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.40311

Abstract

Arca Pangulubalang merupakan artefak seni rupa klasik masyarakat Batak yang memiliki nilai estetika tinggi dan fungsi sakral yang mendalam dalam sistem kepercayaan tradisional Batak. Penelitian ini bertujuan mengkaji karakteristik visual, makna ikonografis, dan fungsi sakral arca Pangulubalang sebagai warisan seni rupa klasik Batak di Sumatera Utara. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan kajian pustaka dan analisis ikonografi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung di Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara, dokumentasi visual, dan studi pustaka terhadap sumber-sumber ilmiah yang relevan. Analisis data mengikuti tiga tahap berurutan yaitu deskripsi formal, analisis ikonografis, dan sintesis kultural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa arca Pangulubalang menampilkan bentuk figuratif dengan stilisasi berat yang dicirikan oleh dominasi proporsi kepala, ekspresi wajah yang tegas dan menyeramkan, postur tubuh yang statis dan simetris, serta permukaan batu yang kasar tanpa penghalusan dekoratif. Setiap elemen visual tersebut bukan keputusan artistik yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sistem tanda yang terstruktur dalam kosmologi Batak. Fungsi sakral arca bekerja melalui tiga mekanisme yang saling berkaitan, yaitu kekuatan material batu yang diperkuat dengan pupuk dari abu jenazah manusia, prosesi ritual oleh datu yang mengubah benda fisik menjadi medium spiritual aktif, serta penempatan strategis di pintu masuk kampung dekat Pohon Hariara. Penelitian ini menegaskan bahwa kajian seni rupa klasik Batak menuntut integrasi antara analisis estetik, pemahaman kosmologi, dan kontekstualisasi fungsi ritual secara bersamaan, dan bahwa Pangulubalang sebagai koleksi museum hari ini menjalankan fungsi baru sebagai penjaga memori kolektif masyarakat Batak dari ancaman kepunahan budaya.