Sarah Khoirunisa Kirana Salsabila
Pendidikan Kimia, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penggunaan Bahasa Gaul dalam Berbahasa Indonesia pada Aplikasi TikTok Theora Savero Al Talitha; Sarah Khoirunisa Kirana Salsabila; Muthia Ramadani; Siti Suwaybatul Islamiyah; Azura Azura; Almaizatul Indra Nazira; Serlinda Citra Kristine Zai
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.40589

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena penggunaan bahasa gaul dalam aplikasi TikTok serta menganalisis pengaruhnya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di kalangan remaja. Perkembangan media sosial, khususnya TikTok, telah menciptakan ruang komunikasi baru yang memungkinkan pengguna, terutama generasi muda, untuk menciptakan dan menyebarkan berbagai bentuk variasi bahasa. Bahasa gaul seperti baper, cegil, caper, ilfill, jir, dan cok menjadi bagian dari interaksi sehari-hari di media sosial karena dianggap lebih ekspresif, komunikatif, dan mampu merepresentasikan identitas kelompok. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa metode simak dan catat terhadap komentar pada beberapa video populer di TikTok. Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui tahapan reduksi data, pengelompokan berdasarkan jenis bahasa gaul, dan penarikan kesimpulan mengenai fungsi serta dampaknya terhadap penggunaan bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa gaul berperan sebagai sarana untuk mengekspresikan perasaan, humor, kedekatan sosial, dan identitas kelompok dalam komunitas digital. Selain itu, penggunaan bahasa gaul menunjukkan kreativitas linguistik remaja dalam mengikuti perkembangan zaman dan budaya digital. Namun, penggunaan bahasa gaul yang berlebihan juga berpotensi menurunkan kemampuan berbahasa Indonesia secara formal, terutama dalam konteks akademik dan komunikasi resmi. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan dalam penggunaan bahasa gaul dan bahasa Indonesia baku agar generasi muda tetap mampu beradaptasi dengan perkembangan bahasa tanpa mengabaikan kaidah kebahasaan yang berlaku.