Hana Debora Tefa
Psikologi, Universitas Nusa Cendana

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Gambaran Kesejahteraan Subjektif Pada Ibu Tunggal di Kota Kupang Pasca Kematian Suami Hana Debora Tefa; Diana Aipipidely; M.K.P. Abdi Keraf
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.40972

Abstract

Kematian pasangan hidup merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari dan menjadi salah satu bentuk kehilangan paling berat dalam kehidupan manusia. Kematian pasangan menimbulkan duka, tekanan ekonomi dan perubahan peran bagi ibu tunggal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami kesejahteraan subjektif pada ibu tunggal pasca kematian suami di Kota Kupang. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis tematik. Partisipan dalam penelitian ini adalah lima orang ibu tunggal yang ditinggal mati pasangannya dan berdomisili di Kota Kupang dengan metode purposive sampling dengan kriteria perempuan dengan rentang usia bebas, memiliki anak yang masih menjadi tanggungan dan harus dibiayai, belum menikah kembali, dan lama ditinggal suami lebih dari satu tahun. Hasil penelitian menunjukan enam tema besar dengan tiga belas subtema. Pertama, tantangan hidup meliputi kesulitan ekonomi dan beban peran ganda sebagai ayah sekaligus ibu. Kedua, kesejahteraan subjektif tergambar dari perasaan bahagia yang bersumber dari anak-anak, perasaan sedih akibat kehilangan pasangan, serta coping psikologis melalui berpikir positif, berdoa, dan bersyukur. Ketiga, spiritualitas dan iman menjadi sumber makna hidup baru melaui doa dan firman, dan keyakinan pada Tuhan. Keempat, dukungan sosial dari keluarga dan komunitas berperan sebagai penopang emosional dan material. Kelima, kesehatan fisik dan keharmonisan keluarga menjadi modal untuk bekerja dan mengasuh anak. Keenam, makna hidup dan harapan masa depan anak-anak menjadi motivasi utama untuk bertahan. Kesimpulannya kesejahteraan subjektif ibu tunggal pasca kematian suami dibentuk oleh evaluasi kognitif berupa kepuasan hidup dan evaluasi afektif berupa keseimbangan emosi positif-negatif. Kepuasan hidup tidak bergantung pada kondisi ekonomi sempurna, melainkan pada kondisi anak yang sehat dan harapan masa depan anak. Faktor dominan yang memengaruhi adalah spiritualitas, iman, penerimaan diri, serta dukungan sosial keluarga dan komunitas. Secara teoretis temuan ini menegaskan pendekatan top-down theories dalam kesejahteraan subjektif, dimana pemaknaan subjektif terhadap pengalaman kehilangan lebih dominan dibanding faktor eksternal.