Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH FORTIFIKASI TEPUNG TULANG IKAN NILA (Oreochromis niloticus) TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIS MIE KERING DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER KALSIUM: Effect Of Nile Tilapia Bone Flour (Oreochromis niloticus) Fortification On The Sensory Characteristics Of Dried Noodles And Its Potential As A Calcium Source Izhar Amirul Haq; Hudriyah Masithah; Harist Ramadhan; Tanti Fitriawati
JURNAL AKUAKULTUR, TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP, ILMU KELAUTAN Vol 9 No 1 (2026): JOURNAL OF INDONESIAN TROPICAL FISHERIES
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muslim Indonesia Makassar, Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/47s5qz78

Abstract

This study aimed to analyze the effect of tilapia bone flour (Oreochromis niloticus) fortification on the sensory characteristics of dry noodles and to evaluate its potential as a natural calcium source. The study employed a laboratory experimental method with three fortification treatments of tilapia bone flour, namely 3% (F1), 6% (F2), and 8% (F3). The observed parameters included appearance, aroma, taste, and texture using a 1–5 hedonic scale test involving untrained panelists. Data were analyzed using the Kruskal–Wallis test at a 5% significance level. The results showed that fortification of tilapia bone flour up to 8% concentration did not significantly affect all organoleptic parameters (p>0.05). The highest average scores were obtained in treatment F1 for appearance (3.97), texture (4.03), and taste (3.76), while the highest aroma score was 3.59. The F1 formulation with 3% tilapia bone flour fortification was considered the best treatment based on panelists’ acceptance level. The high calcium content in tilapia bone flour indicates its potential utilization as a functional food fortification ingredient derived from fishery by-products. This study demonstrates that tilapia bone flour has the potential to be used as a natural calcium source without significantly reducing the sensory quality of dry noodles.
Pengujian Jumlah Pencucian Dengan Penambahan STPP Terhadap Nilai Organoleptik Surimi Beku Ikan Malong Harist Ramadhan
Clarias : Jurnal Perikanan Air Tawar Vol. 6 No. 2 (2026): Clarias : Jurnal Perikanan Air Tawar
Publisher : Universitas Sumatera Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56869/clarias.v6i2.733

Abstract

Ikan malong memiliki potensi besar sebagai bahan baku surimi karena rendemen dagingnya tinggi. Namun, sifat teksturnya yang kasar memerlukan teknik pengolahan tepat. Diversifikasi melalui produk surimi dilakukan dengan proses pencucian untuk meningkatkan konsentrasi protein miofibril. Penambahan sodium tripolifosfat (STPP) menjadi solusi penting untuk memperbaiki kekuatan gel, mencegah denaturasi protein, dan menjaga kualitas tekstur produk akhir.Penelitian eksperimental ini menggunakan 3.400 gram daging ikan malong yang diproses melalui pencucian empat kali dengan larutan garam pada suhu 5 °C. Daging lumat kemudian dicampur gula 2% dan STPP 0,2%. Parameter kualitas yang dianalisis meliputi rendemen, kadar air, pH, serta uji fisik dan organoleptik menggunakan metode uji lipat (folding test) dan uji gigit (teeth cutting test).Pengujian menunjukkan surimi ikan malong dengan STPP 0,2% memiliki kenampakan murni daging meski masih terdapat sisa serat 15%. Secara fisik, nilai uji lipat (3,25) dan uji gigit (4,75) menunjukkan tekstur yang cukup kenyal namun masih retak. Nilai pH 5,43 yang mendekati titik isoelektrik menyebabkan pembentukan gel kurang optimal, sehingga struktur jaringan protein belum mencapai kekuatan maksimal.Penelitian menyimpulkan bahwa kombinasi jumlah pencucian dan penambahan STPP 0,2% efektif mempertahankan stabilitas protein ikan malong selama penyimpanan beku. Proses ini tidak hanya memperpanjang masa simpan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi melalui diversifikasi produk surimi. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan kualitas organoleptik yang signifikan, menjadikan ikan malong sebagai bahan baku potensial untuk produk olahan pangan yang lebih variatif.