M. Rifqi Abdillah
Universitas Islam Negeri Syekh Wasil Kediri

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN ISLAM DALAM TRADISI NYADRAN SEBAGAI UPAYA PENGUATAN KARAKTER ANAK BERBASIS KEARIFAN LOKAL DI DESA SETREN Muhammad Mishbahul Muniir; Asyrul Hanni Adha; M. Rifqi Abdillah
Al-ATHFAL: Jurnal Pendidikan Anak Vol. 7 No. 3 (2026): Juli
Publisher : LPPM IAD Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/0k45s157

Abstract

Nyadran is a form of local wisdom within Javanese society that embodies the interaction between religious and cultural values in community life. This study aims to analyze the values embedded in the Nyadran tradition in Setren Village, identify the challenges of integrating Islamic teachings with local cultural practices, and examine their implications for local wisdom-based Islamic Religious Education (IRE). This research employed a qualitative approach using an intrinsic case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed using descriptive-analytical techniques involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that the Nyadran tradition contains Islamic values, such as collective prayers, almsgiving, and the strengthening of social solidarity, alongside cultural values that preserve community identity and cohesion. However, several practices were also identified that potentially conflict with Islamic teachings, including requests made to sacred sites (punden) and entertainment activities associated with immoral behavior. These challenges are influenced by limited religious literacy, weak value-filtering mechanisms, and a stronger emphasis on preserving tradition than on aligning it with Islamic principles. Consequently, ambiguity in religious understanding emerges, while the role of Islamic Religious Education in integrating religious and cultural values remains suboptimal. Therefore, IRE should function as a filter, value reinforcer, and cultural reconstruction agent to ensure that local traditions are preserved while remaining consistent with Islamic values.
Akhlak Mahmudah: Hubungan Akhlak Dengan Iman Dan Islam, Akhlak Sebagai Puncak Keberagaman, Karakteristik Akhlak Islam, Dan Pembentukan Akhlak Perspektif Tasawuf Akhlaki Muhammad Mishbahul Muniir; M. Sofiyullah Yusuf; M. Rifqi Abdillah
Jurnal Teologi Islam Vol. 2 No. 1 (2026): DESEMBER 2025 - MEI 2026
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/8brny685

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam kedudukan akhlak dalam struktur ajaran Islam serta mekanisme pembentukannya melalui pendekatan tasawuf akhlaki. Akhlak seringkali dipandang hanya sebagai perilaku lahiriah, padahal dalam tradisi intelektual Islam, ia merupakan cerminan dari kualitas iman dan manifestasi ketaatan seorang Muslim. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengeksplorasi pandangan tokoh klasik seperti al-Ghazali dan Ibnu Miskawaih. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa akhlak, iman, dan Islam merupakan satu kesatuan integral di mana akhlak berfungsi sebagai indikator kesempurnaan keyakinan batin seseorang. Lebih lanjut, penelitian ini menemukan bahwa karakteristik akhlak Islam bersifat rabbani, universal, dan seimbang, yang membedakannya dari sistem etika sekuler. Dalam perspektif tasawuf akhlaki, pembentukan karakter mulia dilakukan melalui proses spiritual yang terstruktur, meliputi tazkiyatun nafs, riyadhah, dan mujahadah. Simpulan dari kajian ini menegaskan bahwa akhlak adalah puncak dari keberagamaan yang memberikan dampak sosial nyata, bukan sekadar kesalehan ritualistik. Temuan ini memberikan implikasi bagi pengembangan pendidikan karakter berbasis spiritualitas di era modern.