Puncak kejayaan ekonomi Jepang di Hindia Belanda salah satunya nampak dengan berdirinya Toko Serba Ada Chiyoda milik Okano Shigezo, yang menjadi jembatan perdagangan antara Jepang dan Hindia Belanda. Penelitian ini akan mengulas secara komprehensif mengenai bagaimana kedatangan migran Jepang ke Surabaya yang bertepatan dengan terbukanya ekonomi Surabaya untuk investor asing setelah Hindia Belanda menerapkan kebijakan ekonomi liberal. Selain itu penelitian ini juga akan menganalisis mengenai strategi dan perkembangan Toko Chiyoda yang menimbulkan kecurigaan adanya spionase yang dilakukan dibalik kedok perdagangan di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan pendekatan kuantitatif melalui tahapan heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi, yang didukung oleh pemanfaatan sumber pustaka, dokumen, koran serta literatur yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan setelah Surabaya menerapkan kebijakan ekonomi liberal, banyak investor asing yang datang dan berinvestasi termasuk dari orang-orang Jepang. Perkembangan pesat ekonomi Jepang di Hindia Belanda berawal dari terjadinya krisis ekonomi tahun 1930 di Hindia Belanda yang pada akhirnya melahirkan bisnis pertokoan modern Jepang seperti Toko Serba Ada Chiyoda. Toko ini menerapkan strategi pemasaran modern, yang pada akhirnya mampu menggeser dominasi produk Barat dan etnis lain seperti Tionghoa. Selain analisa upaya spionase, dalam penelitian ini juga meluruskan fakta sejarah bahwa Toko Chiyoda merupakan entitas mandiri yang berdiri terpisah dari Toko Whiteaway Laidlaw yang menjadi muasal Gedung Siola.