Peningkatan jumlah lansia berhubungan dengan meningkatnya risiko penurunan kemampuan fungsional, terutama dalam melakukan Activities of Daily Living (ADL), yang dapat menyebabkan ketergantungan dan menurunkan kualitas hidup. Upaya mempertahankan kemandirian lansia memerlukan intervensi keperawatan yang tidak hanya berfokus pada pemberian informasi, tetapi juga pada pemberdayaan melalui dukungan emosional dan pelatihan keterampilan. Edukasi suportif merupakan pendekatan keperawatan yang mengintegrasikan pemberian informasi, dukungan emosional, motivasi, dan pelatihan keterampilan untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri lansia. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh edukasi suportif terhadap kemandirian lansia berdasarkan skor Activities of Daily Living (ADL) di wilayah kerja Puskesmas PB Selayang II Medan. Penelitian ini menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pre-test–post-test delayed treatment control group. Sampel berjumlah 88 responden yang terdiri atas kelompok intervensi (44 orang) dan kelompok kontrol (44 orang) dengan teknik purposive sampling. Pengukuran kemandirian dilakukan menggunakan Katz Index of Independence in Activities of Daily Living. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney karena data tidak berdistribusi normal berdasarkan uji Shapiro–Wilk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata skor ADL kelompok intervensi meningkat dari 3,07 ± 0,789 menjadi 4,09 ± 1,007 dengan perbedaan bermakna (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan bermakna dari 3,14 ± 0,668 menjadi 3,14 ± 0,632 (p=1,000). Uji Mann–Whitney menunjukkan adanya perbedaan perubahan skor ADL yang bermakna secara statistik antara kedua kelompok (p=0,000), dengan rerata perubahan lebih tinggi pada kelompok intervensi (1,02 ± 0,73) dibandingkan kelompok kontrol (0,00 ± 0,37). Penelitian ini menyimpulkan bahwa edukasi suportif berpengaruh terhadap peningkatan kemandirian lansia dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan berpotensi menjadi intervensi keperawatan komunitas berbasis pemberdayaan pada pelayanan kesehatan primer.