Sejalan dengan penurunan harga karet dalam beberapa tahun terakhir, persoalan kesejahteraan rumah tangga penyadap menjadi isu penting yang dihadapi oleh perusahaan perkebunan karet. Kondisi ini mendorong perlunya kajian yang menyoroti kesejahteraan penyadap pada dua tipe perkebunan karet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap pada perkebunan yang berlokasi dekat dengan ibu kota provinsi dan pada perkebunan yang berada jauh dari pusat perkotaan. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dengan objek dua kategori perusahaan perkebunan berdasarkan jarak lokasi kebun terhadap ibu kota provinsi. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive sesuai dengan kategori lokasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesejahteraan rumah tangga penyadap pada perkebunan yang berdekatan dengan wilayah perkotaan relatif lebih baik dibandingkan dengan penyadap yang bekerja di perkebunan terpencil. Meskipun demikian, kesejahteraan pada kedua kelompok tersebut masih tergolong rendah, namun belum mencapai tingkat kerentanan pangan. Rendahnya akses terhadap layanan pendidikan, kegiatan usaha dan perdagangan, serta pelayanan pemerintah menjadi faktor yang mendorong perlunya peran manajemen perusahaan dalam menyediakan sarana pendukung, baik secara langsung maupun melalui penguatan fungsi koperasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa aksesibilitas wilayah merupakan determinan penting dalam peningkatan kesejahteraan rumah tangga penyadap. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang terintegrasi melalui peningkatan infrastruktur, perluasan akses layanan dasar, serta penguatan kelembagaan ekonomi seperti koperasi guna mendorong peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.