Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

SABDOPALON DAN NAYAGENGGONG SEBAGAI VIDŪṢAKA DALAM SERAT BABAD PATI Hakim, Moh. Taufiqul
METASASTRA: Jurnal Penelitian Sastra Vol 8, No 2 (2015)
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26610/metasastra.2015.v8i2.275-288

Abstract

Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.Abtract: This study seated Serat Babad Pati (here in after abbreviated SBP) as a literary text. Chronicle, or literary chronicle, defined as books that talk about the history of an area and community groups under the assumption that time. Through the idea of Edward Said, the hermeneutics of philology, found understanding that Sabdopalon and Nayagenggong role as guardian Raden Kembangjaya who have a sense of humor (vidūṣaka). They always joked when accompanying the employer. Moreover, Nayagenggong which also acts as a father Sabdopalon, serves as yajamāna. The level of ritual, yajamāna is a regulator of the war. Meanwhile, the figures serve as Yajna, or 'set' in war is Kembangjaya Raden, founder of the Duchy Pesantenan, the forerunner of the Duchy of Starch. Nayagenggong credited Carangsoka State victory over Paranggaruda. The old hermit told Raden Sukmayana, king Carangsoka State to submit a dagger Kyai Rambut Pinutung to Kembangjaya. By doing so, leaders Paranggaruda, Duke Yujopati can be defeated and creating world peace.