Dalam penelitian ini, disoroti fenomena ketenagakerjaan di kalangan guru honorer. Meskipun upah yang diterima guru honorer jauh dari standar kelayakan hidup, mereka tetap menunjukkan loyalitas dan dedikasi yang tinggi dalam mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor kebertahanan guru honorer tersebut berdasarkan perspektif Teori Dua Faktor Herzberg. Pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis secara mendalam pengalaman sebelas guru honorer di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Sukasari melalui narasi yang mereka sampaikan. Melalui analisis yang dilakukan, ditemukan adanya ketidaksesuaian dengan Teori Dua Faktor Herzberg. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ketidakpuasan yang sangat tinggi merupakan akibat dari buruknya faktor hygiene, seperti upah yang rendah dan lambatnya proses birokrasi pencairan dana. Meskipun demikian, hal tersebut berhasil diatasi oleh kuatnya faktor motivator intrinsik yang berasal dari panggilan jiwa dan kebanggaan moral dalam mendukung keberhasilan siswa. Selain itu, kebijakan kepala sekolah yang memberikan kebebasan kepada guru untuk mencari penghasilan tambahan terbukti menjadi strategi adaptasi yang efektif dalam memperkuat kebertahanan mereka. Melalui penelitian ini, ditegaskan bahwa penghargaan secara psikologis yang didapatkan guru seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan hak finansial mereka. Maka dari itu, reformasi manajemen birokrasi harus segera dilakukan, terutama terkait ketepatan waktu pencairan dana pendidikan, guna menjamin kesejahteraan dan keadilan tenaga pendidik nonpermanen.