Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Membangun Budaya Komunikasi Positif Untuk Mencegah Bullying Dikalangan Santri Melalui Pendekatan Edukasi Dan Dialog Novriana Dewi; Abdurrahman Syayuthi; Merlin Marlianka; M. Iqbal Apriandy; Indah Sunanti; Weli Amanda Putri; Galih Aditya Putra
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/dftqeq51

Abstract

Bullying adalah tindakan agresi yang disengaja dan sadar yang berupaya menimbulkan kerugian, termasuk pelecehan verbal, penyerangan fisik, ejekan, dan bentuk -bentuk negatif lainnya yang menyebabkan kesusahan pada orang lain. Perilaku intimidasi yang berulang menargetkan kesejahteraan fisik dan mental korban. Membangun budaya komunikasi positif dapat mencegah terjadinya bullying dikalangan santri, dengan cara: berkomunikasi dengan santun dan empatik, membiasakan menyapa, mendengarkan, dan menghindari kata-kata kasar, dan membiasakan musyawarah untuk menyelesaikan masalah, komunikasi positif bertujuan untuk menjaga harga diri dan perasaan orang lain, menghindari konflik dan suasana yang tidak nyaman, membentuk budaya komunikasi dengan adab yang baik, dan memperkuat persaudaraan antar santri. Untuk menciptakan suasana yang harmonis dan nyaman, budaya komunikasi yang positif perlu di terapkan di lingkungan santri bahkan di lingkungan masyarakat.
Penyuluhan Hukum KDRT Bagi Ibu Rumah Tangga: Mengenal Hak, Perlindungan, dan Langkah Hukum untuk Kesehatan dan Keselamatan IRT Abdurrahman Syayuthi; Novriana Dewi; Muhamad Rizki; Nurul Hikmah Wahyuni; Apriyadi Rahmat; M Tajri Al Anhar; Dedek Sartika
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/qdwhaa98

Abstract

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih menjadi masalah besar di Indonesia, terutama bagi ibu rumah tangga yang sangat rentan. Banyak orang yang tidak tahu tentang hak-hak hukum mereka, cara-cara perlindungan, dan proses penyelesaian masalah yang membuat korban sulit untuk melaporkan kekerasan. Penyuluhan hukum ini bertujuan untuk menunjukkan bagaimana penyuluhan hukum dapat membantu ibu rumah tangga memahami lebih baik tentang KDRT. Metode yang digunakan termasuk kuliah, diskusi, serta memberikan contoh terkait KDRT, semua bertujuan untuk memberikan pengetahuan lengkap tentang hak-hak korban, berbagai jenis perlindungan hukum sesuai UU No. 23 tahun 2004, dan opsi hukum untuk mendapatkan bantuan. Penyuluhan ini menunjukkan bahwa peserta memahami lebih baik tentang KDRT, lebih berani melaporkan tindakan kekerasan, serta lebih tahu tentang lembaga yang bisa memberikan perlindungan dan dukungan hukum. Dengan demikian, penyuluhan hukum ini bukan hanya sebagai alat pendidikan tetapi juga cara untuk mengurangi KDRT dan meningkatkan posisi perempuan di rumah dengan pemahaman yang kuat tentang hukum.
Reframing Financial Education in the Algorithmic Age: A Critical Inquiry into Digital Lending and Consumptive Culture among Indonesian University Students Novriana Dewi; Pragawati Pragawati; Nofica Andriyati
Tunjuk Ajar: Journal of Education and Culture Vol. 2 No. 2 (2026): DECEMBER (IN PROGRES)
Publisher : Tuah Foundation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64929/ta.v2i2.86

Abstract

This study conducts a critical inquiry into the phenomenon of digital lending and consumptive culture among Indonesian university students, with the aim of reframing financial education in the algorithmic age. Using a qualitative critical inquiry design, the study interviewed 20 students from various types of higher education institutions who had experience using digital lending platforms such as ShopeePay Later, Kredivo, Akulaku, and Dana PayLater. A reflexive thematic analysis produced three main findings. First, frictionless onboarding, in the form of registration taking 10 to 30 minutes without adequate verification, together with limit-increase notifications and illusory discounts, functions as a structural trap that exploits students’ psychological vulnerabilities. Second, the motivations behind borrowing span a wide spectrum, from aspirational consumption (game skins, concert tickets, viral skincare) to academic survival (tuition fees, fieldwork costs, thesis components, medicine for sick parents), indicating that the failure of the education system is the true root of the problem. Third, a severe pedagogical gap exists between the normative financial education students receive and the algorithmic reality of the platforms, yet algorithmic awareness can emerge through dialogic reflection. The study concludes that reframing financial education requires simultaneous intervention: platform regulation that protects users, reform of the education financing system, and the development of a critical financial pedagogy that equips students to resist algorithmic manipulation.