Komoditi kopi di Sulawesi Barat dapat mendorong ekonomi di pedesaan terkhusus pada petani, yang memproduksi kopi dalam bentuk biji kopi mentah (green bean), menyuplai kebutuhan perusahaan eksportir, industri pengolahan, dan UMKM. Menyerap 20 persen biji kopi mentah untuk industri pengolahan kopi, 70 persen di luar daerah. Kopi di Sulawesi Barat mengalami permasalahan di subsistem pengolahan dan kelembagaan penunjang, seharusnya petani kopi di Sulawesi Barat dapat menjaga pendapatan dan keberlanjutan. Tujuan penelitian melihat model kelembagaan serta peran antar lembaga agribisnis kopi. Metode observasi, survei, wawancara dan Focus Group Discusion. Sampel secara purposive sampling, terdapat 100 responden. Pada bulan 2– 11 2024. Analisis data secara deskriptif kualitatif dan Interpretative Structural Modeling. Hasil: Ada 9 lembaga terlibat pada agribisnis kopi, yaitu perusahaan eksportir, industri pengolahan, koperasi, dinas pertanian, pergurung tinggi/litbang, lembaga kauangan (Bank), lembaga pemasaran, kelompok tani dan lembaga swadaya kopi (DEKOPI. Peran lembaga berdasarkan analisis Structural Self-Interaction Matrix (SSIM) bahwa variabel mempengaruhi lebih tinggi dari yang di pengaruhi., Initial Reachability Matrix (IRM) terdapat 40,2% memiliki asosiasi yang tidak konsisten antar lembaga. Analisis struktur ISM peran lembaga tidak ada sub-faktor yang termasuk dalam kuadran I, Kuadran II, dependent, terdiri dari sub-faktor yang memiliki driving power rendah tetapi dependence tinggi yaitu Lembaga Keuangan (Bank), Kuadran III, linkage, mencakup sub-faktor yang memiliki driving power dan dependence yang kuat, diantaranya industri pengolahan kopi, lembaga pemasaran, koperasi kopi, dinas pertanian, perguruan tinggi/Litbang, kelompok tani, lembaga swadaya masyarakat (DEKOPI). Kuadran IV, independent, terdiri dari sub-faktor dengan driving power yang tinggi dan dependence yang rendah yaitu perusahaan eksportir kopi.