This Author published in this journals
All Journal Jurnal Anala
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

POLA PEMUKIMAN DESA SIDATAPA Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol. 2 No. 1 (2014): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (831.419 KB) | DOI: 10.46650/anala.2.1.182.%p

Abstract

Kearifan tradisional masyarakat desa Sidatapa di permukiman yang melestarikan lingkungan hidup, baik lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan buatannya merupakan dambaan bagi setiap warga untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi diri dan keluarganya. Permukiman desa Sidatapa  adalah salah satu kawasan permukiman tua di Bali, terletak di Kecamatan Banjar, Singaraja, Bali.Sampai sekarang Desa ini dijuluki sebagai Desa Tua atau Desa Bali Aga, konon diperkirakan Desa ini mulai didirikan sekitar tahun 785 oleh penduduk pendatang dari Daerah Batur yaitu Daerah Dauh Toro Iseng dan ada juga dari Daerah Jawa yaitu pengukutnya Rsi Markandea hal ini dapat dibuktikan dengan adanya banyak penduduk yang berkasta pasek,patih,Batur dengan demikian didesa sidatapa ada tiga kategori popularitas perkembangan penduduk yaitu: Warga Pasek yang mendiami wilayah lekedWarga Patih yang mendiami wilayah Desa KunyitWarga Batur yang mendiami wilayah sekarung yang kesemuanya itu adalah wilayah Desa Sidetapa, yang konon Desa Sidetapa bernama Desa Gunung Sari Munggah TapaTujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui bagaimana sejarah Desa Sidatapa; (2) Untuk mengetahui pola perumahan dan pemukiman Desa Sidatapa; dan (3) Untuk mengetahui bagaimana bentuk rumah adat Desa SidatapaPermasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah (1)Bagaimanakah sejarah desa Sidatapa dan (2) Bagaimanakah pola permukiman, perumahan dan bentuk rumah adat Desa Sidatapa?Hasil penelitian dan pembahasan menunjukkan hasil bahwa wujud arsitektur Desa Sidatapa memiliki karakter yang khas yang menunjukkan penyesuaian dengan bentuk bentuk alam. Dari sedi ukuran dan skala berpedoman pada proporsi tubuh manusia pengguna bangunan, dimensi dimensi ini dengan menggunakan menentukan proporsinya dan dari segi warna menggunakan warna kelam (warna tanah) sebagai predikat paling mencolok sehingga menunjukkan ontegrasi terhadap lingkungan, yang turut mempengaruhi kulitas arsitektur Sidatapa
PROSEDUR PEMBUATAN DAN PENGUJIAN MUTU BETON Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol. 3 No. 1 (2015): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.912 KB) | DOI: 10.46650/anala.3.1.200.%p

Abstract

In daily activities, the term of concrete is familiar enough for everyone as material foe construction of a building. The concrete is used as the main structure of a building, eventhough in the context within the srchitectural minimalist trend, the concrete usage is very high frecuency. On the other hand, many people don’t understand what the concrete is and how the quality related to the requrement of the construction and the building codesThe article is a content of analysis of some referent literature regarding the requirement of concrete as a material for building construction (such as : the creteria of the aggregate, the mud content, water quality, aggregate gradation and the cement factor)The reseach result show that : (i) the making procedures and concrete quality test are consisted of five steps, ie (a) the main material preparation,(b) the concre mixture planning, (c) the concrete mixture processing, (d) the slump value difinite process and (e) the concrete quality test. (ii) all steps are an integrated processing those have to be passed in gainning the concrete qualiti according to the disire standart.
PENATAAN KAWASAN TEPI TUKAD BADUNG DALAM UPAYA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol. 4 No. 1 (2016): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.722 KB) | DOI: 10.46650/anala.4.1.207.%p

Abstract

Every individual which live in a environment, surely expect the mobility personal which easy independent, peaceful and confortable, conducive them to enjoy its environment. But unfortunately architecture as one part of which partake to create this frequently meant by as something that marjinal. A kind of skeptisitas of people who uncare of under word of priority in architecture. The question in context moralitas which ought to be altered from " why we think the aksesibelitas?" becoming " why us do not think the aksesibelitas?", because unconsciously architecture often snatch the somebody honour, with do not permit it to experience of, to feeling, and making it a kind of object of pity compassion for other. Devide it become  diffable and able. That thing become the base conception of desain environment which aksesibel, representing a new responsibility professional to take a place  and concerned in public building dan public space.
MUSEUM SUBAK DI KABUPATEN BADUNG Frysa Wiriantari
Jurnal Anala Vol. 5 No. 2 (2017): ANALA
Publisher : Universitas Dwijendra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.054 KB) | DOI: 10.46650/anala.5.2.491.%p

Abstract

Bali memang pulau yang penuh dengan pesona keindahan. Hampir di setiap sudut pulau, pesona keindahan tersebut dapat dengan mudah ditemukan. Mulai dari keindahan daerah pantai, pedesaan, perkotaan, hingga aliran kepercayaan yang seakan-akan tidak pernah berhenti menarik perhatian untuk terus dikagumi. Tidak heran banyak orang yang jatuh hati kepada pulau indah ini. Salah satu tempat yang banyak menarik perhatian orang untuk datang ke Bali adalah area persawahannya. Dan, ketika kita sudah berada di area persawahan ini, kita akan berkenalan secara langsung dengan Subak.Namun seiring berjalannya waktu dan jaman Subak yang berada di Kabupaten Badung perlahan sudah mulai menipis dikarenakan banyaknya alih fungsi lahan dan peralihan mata pencaharian. Dengan demikian perlu adanya pelestarian subak yang ada di kabupaten badung dengan membangun Museum Subak yang berada di Kabupaten Badung. Dari latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut. Bagaimana cara melestarikan Subak yg berada di Kabupaten Badung? Bagaimana cara memperkenalkan Subak?Metode penelitian yang di pakai yakni metode pengumpulan data yang meliputi data primer dengan teknik wawancara dan observasi, data sekunder yakni dengan studi kepustakaan dan buku penunjang literatur berupa Museum Subak. Metode analisis data yang meliputi pengelompokan data, analisis dan sintesis daan yang terakhir adalah Metode penarikan kesimpulan yang meliputi metode induktif dan dedukatif.Dalam perencanaan Museum Subak di Kabupaten Badung menggunakan Konsep Dasar Edukatif dan Budaya dimana dilihat dari fungsi Museum tersebut. Penggunaan Tema Arsitektur Neo Vernakular pada perencanaan Museum Subak di Kabupaten Badung ini bertujuan agar nantinya wujud/fasade dari Museum Subak yang dibangun sesuai dengan budaya yang ada di daerah tersebut. Kata Kunci : Museum, Subak, Pelestarian