Muhammad Fathur Hidayat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PERAN WAYFINDING DALAM ARSITEKTUR: ANTARA FUNGSI DAN ESTETIKA Muhammad Fathur Hidayat; Agung Budi Sardjono2
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 1 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE, Maret 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i1.4547

Abstract

Abstract: Wayfinding is an important concept in architecture that relates to an individual's ability to find direction and purpose in the physical environment, whether familiar or unfamiliar. The concept not only emphasizes functional aspects as a navigation tool, but also contains aesthetic dimensions that enrich the user's experience of the space being traversed. As architectural design develops and the complexity of modern public spaces increases, the role of wayfinding becomes increasingly crucial to ensure the comfort, safety and efficiency of user mobility in various types of buildings, such as stations, airports, museums, hospitals, shopping centers and other public facilities. This research uses a descriptive qualitative method with a literature study and case study approach to examine in depth the integration of navigation functions and aesthetic values in architectural wayfinding systems. Data were collected from various literature sources as well as observations of buildings that implement wayfinding, both highlighting functional and aesthetic aspects. The results show that an effective wayfinding system not only provides clear and intuitive directional information through signage, circulation paths, colors and landmarks, but is also able to strengthen the visual identity of the building through the design of aesthetic elements that are harmonious with the architecture. Case studies of the Guggenheim Museum in New York and the U District Station in Washington demonstrate the application of wayfinding that successfully combines navigation functions with aesthetic values, both through communicative space design and the use of strategic and visually appealing signage. Thus, the integration of function and aesthetics in wayfinding is both a challenge and an opportunity for architects and designers to create a built environment that is not only functional, but also aesthetic and comfortable for all users. Keyword: Wayfinding System, Wayfinding Function, Wayfinding Aesthetics Abstrak: Wayfinding merupakan konsep penting dalam arsitektur yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk menemukan arah dan tujuan di lingkungan fisik, baik yang familiar maupun asing. Konsep ini tidak hanya menekankan aspek fungsional sebagai alat navigasi, tetapi juga mengandung dimensi estetika yang memperkaya pengalaman pengguna terhadap ruang yang dilalui. Seiring berkembangnya desain arsitektur dan meningkatnya kompleksitas ruang publik modern, peran wayfinding menjadi semakin krusial untuk memastikan kenyamanan, keamanan dan efisiensi mobilitas pengguna di berbagai jenis bangunan, seperti stasiun, bandara, museum, rumah sakit, pusat perbelanjaan dan fasilitas publik lainnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan studi kasus untuk mengkaji secara mendalam integrasi fungsi navigasi dan nilai estetika dalam sistem wayfinding arsitektur. Data dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka serta pengamatan terhadap bangunan yang menerapkan wayfinding, baik yang menonjolkan aspek fungsional maupun estetika. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem wayfinding yang efektif tidak hanya memberikan informasi arah secara jelas dan intuitif melalui signage, jalur sirkulasi, warna dan landmark, tetapi juga mampu memperkuat identitas visual bangunan melalui desain elemen yang estetis dan harmonis dengan arsitektur. Studi kasus pada Museum Guggenheim di New York dan Stasiun U District di Washington memperlihatkan penerapan wayfinding yang berhasil menggabungkan fungsi navigasi dengan nilai estetika, baik melalui desain ruang yang komunikatif maupun penggunaan signage yang strategis dan visual menarik. Dengan demikian, integrasi fungsi dan estetika dalam wayfinding menjadi tantangan sekaligus peluang bagi arsitek dan desainer untuk menciptakan lingkungan binaan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga estetis dan nyaman digunakan oleh seluruh pengguna. Kata Kunci: Sistem Wayfinding, Fungsi Wayfinding, Estetika Wayfinding
IMPLEMENTATION OF LOCAL WISDOM: PENERAPAN ORNAMEN KAIN SONGKET PALEMBANG PADA BANGUNAN, RUANG PUBLIK DAN INFRASTRUKTUR DI KOTA PALEMBANG Muhammad Fathur Hidayat; Agung Budi Sardjono Sardjono
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.4126

Abstract

Abstract: The city of Palembang, as the capital of South Sumatra Province, is known as a center of cultural acculturation between Malay, Middle Eastern and Chinese cultures, reflected in various aspects of life, including architecture and traditional culture. One of the most prominent cultural heritages is the Palembang Songket Fabric, which serves not only as traditional attire but also as a symbol of social status, luxury and cultural identity from the Sriwijaya Kingdom era to the present day. The motifs on the songket fabric, such as bungo tanjung, pucuk rebung, bintang berante and nago besaung, carry deep philosophical meanings, symbolizing the values of life, hope, social harmony and the hospitality of the people of Palembang City. In the context of architecture, songket fabric ornaments have been widely adapted and applied to buildings, public spaces and infrastructure in Palembang City as a form of preserving local wisdom and strengthening the city's identity. This study employs a qualitative descriptive method through field observations, literature reviews and case studies on architectural objects incorporating songket fabric motifs. The findings reveal that the application of songket fabric ornaments enhances the city's visual appeal, boosts community pride, and reinforces Palembang City's branding as a cultural city. However, challenges remain, particularly regarding the authenticity of motifs and the preservation of philosophical values amid modernization. Therefore, collaboration between the government, community, cultural practitioners and architects is essential to ensure that the application of songket motifs is not only visually appealing but also remains authentic and meaningful as a living and relevant cultural heritage in the era of globalization. Keyword: Local Wisdom, Ornament, Palembang Songket Fabric Abstrak: Kota Palembang, sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, dikenal sebagai pusat akulturasi budaya Melayu, Timur Tengah dan Tionghoa yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk arsitektur dan kebudayaan tradisional. Salah satu warisan budaya paling menonjol adalah Kain Songket Palembang, yang tidak hanya berfungsi sebagai busana adat, tetapi juga simbol status sosial, kemewahan dan identitas budaya sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga kini. Motif-motif pada kain songket, seperti bungo tanjung, pucuk rebung, bintang berante dan nago besaung, mengandung makna filosofis yang mendalam, melambangkan nilai-nilai kehidupan, harapan, keharmonisan sosial dan keramahtamahan masyarakat Kota Palembang. Dalam konteks arsitektur, ornamen kain songket diadaptasi dan diaplikasikan secara luas pada bangunan, ruang publik dan infrastruktur di Kota Palembang, sebagai bentuk pelestarian kearifan lokal dan penguatan identitas kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan, studi literatur dan studi kasus pada objek-objek arsitektur yang menerapkan motif kain songket. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ornamen kain songket memperindah visual kota, meningkatkan kebanggaan masyarakat, serta memperkuat branding Kota Palembang sebagai kota budaya. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait keaslian motif dan pelestarian nilai filosofis di tengah modernisasi. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, pelaku budaya dan arsitek sangat diperlukan agar penerapan motif songket tidak hanya indah secara visual, tetapi juga tetap otentik dan bermakna sebagai warisan budaya yang hidup dan relevan di era globalisasi. Kata Kunci: Kearifan Lokal, Ornamen, Kain Songket Palembang