Aryaldy Zulkarnaini
University Baiturrahmah, Padang

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

INFLAMASI SISTEMIK DAN PRURITUS KRONIK PADA DIABETES MELITUS TIPE 2: TINJAUAN LITERATUR MULTIDISIPLIN Ar Aryaldy Zulkarnaini; Wisda Widiastuti; Irdawaty Izrul; Ffitra Deny; Puspita Prihatinningrum
Journal of Public Health Science Vol. 3 No. 2 (2026): Juni
Publisher : Yayasan Nuraini Ibrahim Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70248/jophs.v3i2.3801

Abstract

Pruritus kronik merupakan salah satu manifestasi dermatologis yang sering ditemukan tetapi masih kurang mendapat perhatian pada pasien Type 2 Diabetes Mellitus. Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas hidup pasien, tetapi juga berkaitan dengan gangguan tidur, stres psikologis, serta peningkatan morbiditas kronik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pruritus kronik pada diabetes melitus tipe 2 memiliki mekanisme multifaktorial yang melibatkan inflamasi sistemik, stres oksidatif, neuropati perifer, serta gangguan sawar kulit. Hiperglikemia kronik diketahui meningkatkan produksi sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6) dan tumor necrosis factor-alpha (TNF-α) yang berperan dalam proses neuroinflamasi dan aktivasi jalur pruritogenik . Artikel ini merupakan narrative narrative reviewyang bertujuan menganalisis peran inflamasi sistemik sebagai prediktor pruritus kronik pada pasien diabetes melitus tipe 2 melalui pendekatan multidisiplin penyakit dalam, dermatologi, anestesi, dan farmakologi. Penelusuran literatur dilakukan melalui database PubMed, Scopus, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci terkait diabetes melitus tipe 2, inflamasi sistemik, neuroinflamasi, dan pruritus kronik. Literatur yang digunakan merupakan artikel publikasi tahun 2014–2025 yang relevan dengan topik penelitian. Hasil telaah menunjukkan bahwa peningkatan inflamasi sistemik dan stres oksidatif berhubungan erat dengan aktivasi serabut saraf perifer, xerosis kulit, gangguan mikrosirkulasi, dan kerusakan sawar kulit yang berkontribusi terhadap munculnya pruritus kronik. Selain itu, pendekatan terapi modern mulai berkembang ke arah penggunaan neuromodulator, antioksidan, serta terapi berbasis sitokin inflamasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes dengan pruritus kronik . Disimpulkan bahwa inflamasi sistemik memiliki peran penting dalam patogenesis pruritus kronik pada diabetes melitus tipe 2. Pendekatan multidisiplin diperlukan untuk memahami mekanisme penyakit secara lebih komprehensif serta mendukung pengembangan strategi terapi yang lebih efektif dan individual.