Generasi sandwich merupakan kelompok individu usia produktif yang berada dalam tekanan peran ganda karena harus memenuhi kebutuhan orang tua lanjut usia sekaligus menanggung kehidupan anak atau anggota keluarga yang lebih muda. Fenomena ini semakin relevan untuk dikaji seiring meningkatnya usia harapan hidup, perubahan struktur keluarga, serta tekanan ekonomi rumah tangga yang kian kompleks. Penelitian ini bertujuan menelaah faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kesehatan mental generasi sandwich dan implikasinya terhadap perencanaan pensiun. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menelaah artikel jurnal nasional dan internasional yang terbit pada periode 2017–2025. Literatur dipilih berdasarkan keterkaitannya dengan beban pengasuhan, kesehatan mental, tekanan sosial ekonomi, dukungan sosial, literasi keuangan, dan kesiapan pensiun. Hasil kajian menunjukkan bahwa beban pengasuhan yang berkelanjutan, keterbatasan dukungan sosial, konflik peran kerja-keluarga, serta tekanan finansial menjadi faktor utama yang berkaitan dengan stres kronis, kelelahan emosional, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan psikologis. Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kualitas hidup sehari-hari, tetapi juga memengaruhi kemampuan individu dalam menyusun prioritas keuangan jangka panjang. Generasi sandwich cenderung mengalihkan sumber daya ekonomi untuk kebutuhan keluarga saat ini sehingga perencanaan pensiun, tabungan hari tua, dan investasi jangka panjang menjadi tertunda. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan integratif yang menggabungkan dukungan kesehatan mental, penguatan dukungan sosial, dan peningkatan literasi keuangan. Strategi tersebut dapat diarahkan melalui edukasi finansial berbasis keluarga, layanan konseling, dan kebijakan kerja yang lebih responsif terhadap beban pengasuhan. Upaya tersebut diperlukan agar generasi sandwich mampu menjaga kesejahteraan psikologis sekaligus mempersiapkan keamanan finansial pada masa pensiun.