Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Hak Anak di Atas Kertas: Kegagalan Negara dalam Pemenuhan Pendidikan Dasar di Wilayah 3T: Analisis Sosiologi Hukum (Studi Kasus di Sumba) Bruno Bani; Novinda Grezen Nufninu
Perkara : Jurnal Ilmu Hukum dan Politik Vol. 4 No. 1 (2026): Maret: Perkara Jurnal Ilmu Hukum dan Politik
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Komputer

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/dx40j373

Abstract

This research is motivated by the ongoing disparity in the distribution of education in underdeveloped, frontier, and outermost regions (3T), particularly in the Sumba region, despite national regulations and commitments to education funding being established. The main issue lies in the gap between legal norms that guarantee equal access to education and the reality of its implementation at the regional level. This research aims to analyze the effectiveness of educational equity policies from the perspective of legal sociology and to identify the structural factors that influence their implementation. The research method used is a qualitative approach with a case study design. Data were obtained through interviews with 30 informants consisting of education officials, school principals, teachers, and parents, as well as supported by document analysis and secondary data. The research results indicate that the education equity policy has not been fully effective, marked by an imbalance in the teacher-student ratio, limited infrastructure, and resource distribution constraints. These findings indicate a gap between regulatory design and implementation practices, influenced by institutional capacity, intergovernmental coordination, and the geographical conditions of the region. Theoretically, this research reinforces the perspective that the effectiveness of law is determined by the interaction between norms, structures, and social conditions. Practically, this research recommends need-based affirmative policies to achieve substantive educational equity in the 3T areas.
Peningkatan Kapasitas Manajemen, Literasi Keuangan, Kepemimpinan, dan Public Speaking bagi Ikatan Pelajar melalui Program Pelatihan dan Pendampingan Nanik Qosidah; Novinda Grezen Nufninu; Olivia Sindi Sapan
Community : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2026): Juli: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi - Studi Ekonomi Modern

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51903/y255ax13

Abstract

Organisasi pelajar memiliki peran penting sebagai wadah pembinaan generasi muda, namun masih banyak yang menghadapi keterbatasan dalam manajemen organisasi, literasi keuangan, kepemimpinan, dan kemampuan berbicara di depan umum. Kondisi tersebut berdampak pada kurang optimalnya pelaksanaan program kerja serta rendahnya kepercayaan diri anggota dalam kegiatan organisasi. Oleh karena itu, dilaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan dan pendampingan bagi Ikatan Pelajar di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Populasi dalam kegiatan ini adalah seluruh anggota aktif Ikatan Pelajar yang berjumlah 48 orang, sedangkan 30 peserta ditetapkan sebagai sampel pelatihan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas anggota organisasi melalui penguatan kompetensi manajemen, keuangan, kepemimpinan, dan public speaking. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif melalui observasi awal, penyampaian materi, diskusi, simulasi, praktik langsung, serta evaluasi menggunakan pre-test, post-test, lembar observasi, dan kuesioner kepuasan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan nilai rata-rata peserta dari 56,4 pada pre-test menjadi 84,7 pada post-test. Capaian praktik tertinggi terdapat pada public speaking sebesar 86,7%, sedangkan kepuasan peserta terhadap manfaat program mencapai 93,3%. Program ini membuktikan bahwa pelatihan terpadu dan pendampingan efektif meningkatkan kapasitas organisasi pelajar serta layak dikembangkan secara berkelanjutan sebagai model pemberdayaan generasi muda.