Saefur Rohman
a:1:{s:5:"en_US";s:63:"Prodi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UPN Veteran Jawa Timur";}

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Induksi Kalus Rosella (Hibiscus sabdariffa) dan Ciplukan (Physalis angulata) pada Rasio IAA dan BAP Berbeda Secara in vitro Saefur Rohman; Nathasya Yusvie Pribadi
Agrisintech (Journal of Agribusiness and Agrotechnology) Vol 7 No 1 (2026): April 2026
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rosella (Hibiscus sabdariffa) dan ciplukan (Physalis angulata) merupakan biofarmaka underutilized kaya senyawa bioaktif yang pengembangannya menuntut optimasi induksi kalus sebagai basis produksi metabolit sekunder dan perbanyakan sel secara terkontrol. Kombinasi ZPT auksin dan sitokinin pada konsentrasi dan rasio yang tepat berperan penting dalam inisiasi dan perkembangan kalus secara in vitro. Penelitian ini bertujuan untuk menguji rasio dan konsentrasi auksin indole-3-acetic acid (IAA) dan sitokinin 6-benzylaminopurine (BAP) terhadap induksi dan perkembangan kalus rosella dan ciplukan. Eksperimen dirancang sebagai penelitian satu faktor yaitu berbagai rasio-konsentrasi auksin-sitokinin: (Z1) IAA 0,5 ppm + BAP 2,0 ppm; (Z2) IAA 1,0 ppm + BAP 1,5 ppm; (Z3) IAA 1,5 ppm + BAP 1,0 ppm; dan (Z4) IAA 2,0 ppm + BAP 0,5 ppm. Eksplan daun rosella dan daun ciplukan dikultur pada media MS + ZPT sesuai perlakuan hingga 6 minggu setelah inisiasi (MSI). Parameter yang diamati meliputi: waktu muncul kalus, persentase eksplan berkalus (3, 6 MSI), dan warna dan tekstur kalus. Data dianalisis secara parametrik melalui ANOVA + uji BNJ; atau secara non-parametrik melalui uji Kruskall-Wallis + uji Dunn; pada taraf 5%. Hasil menunjukkan kombinasi IAA + BAP pada semua rasio berhasil memunculkan kalus. Pada rosella, dominansi sitokinin cenderung memunculkan kalus tercepat dan persentase kalus tertinggi. Pada ciplukan, induksi kalus cenderung dihasilkan pada rasio auksin-sitokinin berimbang. Warna kalus didominasi warna hijau keputihan, kekuningan, dan kecoklatan; dengan tekstur kalus remah untuk kalus rosella dan kompak untuk kalus ciplukan. Hasil ini menegaskan sinergi auksin-sitokinin dan interaksinya dengan hormon endogen dalam induksi kalus rosella dan ciplukan.