Aktivitas lifting menggunakan gantry crane memiliki tingkat risiko tinggi karena melibatkan interaksi pekerja, peralatan mekanis, beban, prosedur operasional, dan kondisi lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan safety plan berbasis prioritas risiko melalui integrasi Hazard and Operability Study, risk matrix, dan Analytical Hierarchy Process. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, telaah dokumen keselamatan kerja, serta penilaian aktivitas operasional gantry crane. Risiko dianalisis berdasarkan konsekuensi dan peluang kejadian, kemudian dipetakan dalam risk matrix. Pembobotan kriteria dilakukan melalui matriks perbandingan berpasangan untuk mengidentifikasi faktor dominan pengendalian keselamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 29 aktivitas, 24 aktivitas (82,76%) berada pada kategori risiko tinggi, tiga aktivitas (10,34%) berada pada kategori ekstrem, dan dua aktivitas (6,90%) berada pada kategori rendah. Risiko ekstrem ditemukan pada pemeriksaan bridge girder/beam, pemeriksaan tabel daftar beban dan sticker hand signal, serta pengembalian peralatan setelah digunakan. Matriks awal AHP menghasilkan consistency ratio 0,0153, yang menunjukkan konsistensi matematis. Faktor manusia memperoleh bobot tertinggi 0,4162, diikuti peralatan 0,2618, manajemen 0,1611, material atau beban 0,0986, dan lingkungan 0,0624. Temuan ini menunjukkan bahwa safety plan perlu memprioritaskan kompetensi, komunikasi, kepatuhan prosedur, inspeksi, dan pengawasan sebagai dasar pencegahan kecelakaan serta alokasi sumber daya keselamatan operasi gantry crane secara lebih terarah dan efektif.