Danau Sentani merupakan danau terbesar di Provinsi Papua yang memiliki fungsi ekologis dan sosial-ekonomi penting bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, peningkatan aktivitas antropogenik berupa limbah domestik, pertanian, dan keramba jaring apung (KJA) telah menjadi ancaman terhadap kualitas airnya. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis kondisi kualitas air Danau Sentani berdasarkan parameter fisika dan kimia; (2) menentukan status mutu air menggunakan metode Weighted Arithmetic Water Quality Index (WAWQI); dan (3) mengidentifikasi parameter yang paling berpengaruh terhadap penurunan kualitas air. Pengambilan sampel air dilakukan pada lima titik lokasi, yaitu Kampung Ifale, Yobeh, Asei Besar, Asei Kecil, dan Jaifuri, dengan sepuluh parameter uji meliputi suhu, pH, kekeruhan, DO, TDS, BOD, COD, nitrat, fosfat, dan amonia. Analisis data menggunakan metode WAWQI mengacu pada baku mutu air kelas II Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter BOD (4,11–8,31 mg/L), COD (77–154 mg/L), dan amonia (0,35–0,42 mg/L) telah melampaui baku mutu pada seluruh lokasi. Nilai WAWQI berkisar antara 113,89 (Jaifuri) hingga 128,38 (Ifale), yang mengklasifikasikan seluruh lokasi dalam status mutu “tidak layak minum” (unsuitable for drinking). Parameter amonia, fosfat, dan BOD secara kumulatif menyumbang lebih dari 96% terhadap nilai WAWQI, dengan amonia sebagai kontributor terbesar (81,58–97,89). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas air Danau Sentani telah mengalami penurunan signifikan akibat pencemaran limbah domestik dan aktivitas keramba jaring apung, sehingga diperlukan upaya pengendalian pencemaran yang terfokus pada pengelolaan limbah domestik dan pengaturan aktivitas perikanan budidaya.