Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi manajemen konflik dalam sistem kerja hybrid serta mengkaji dampaknya terhadap kinerja tim perkantoran. Dengan penerapan sistem kerja hybrid yang menggabungkan kerja di kantor dan kerja jarak jauh, ada tantangan baru dalam hal komunikasi, koordinasi, dan dinamika tim yang dapat meningkatkan konflik di lingkungan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber akademik, jurnal, serta studi kasus yang relevan dengan manajemen perkantoran dan perilaku organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan teknologi, perbedaan ekspektasi kerja, keterbatasan interaksi tatap muka, dan miskomunikasi adalah penyebab utama konflik di sistem kerja hybrid. Untuk mengurangi konflik dan meningkatkan kohesi tim, teknik manajemen konflik yang efektif termasuk komunikasi yang terbuka dan jujur, pemecahan masalah secara kolaboratif, pembagian peran yang jelas, dan kepemimpinan yang adaptif. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa organisasi yang memiliki kemampuan untuk menerapkan manajemen konflik secara terstruktur cenderung memiliki kinerja tim yang lebih baik, keterlibatan karyawan yang lebih tinggi, dan lingkungan kerja yang lebih baik. Kesimpulannya, keberhasilan sistem kerja hybrid sangat bergantung pada kemampuan organisasi untuk menangani konflik. Oleh karena itu, untuk menjaga produktivitas dan memastikan keberlanjutan kinerja tim di lingkungan perkantoran kontemporer, organisasi harus membuat dan menerapkan strategi manajemen konflik yang tepat.