Penelitian ini dilatar belakangi oleh peran serial televisi sebagai media komunikasi visual yang efektif dalam merepresentasikan realitas sosial, salah satunya melalui penayangan adegan kekerasan dalam Squid Game 2. Tayangan ini tidak sekadar menjadikan kebrutalan sebagai nilai jual, tetapi mengonstruksinya sebagai bahasa simbolik yang sarat akan pesan sosial dan budaya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membongkar makna tersembunyi dari representasi sadisme tersebut menggunakan pisau analisis semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi secara langsung terhadap objek penelitian dan dokumentasi. Penarikan sampel dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yang difokuskan pada 3 episode representatif dari total 7 episode yang dipertimbangkan. Analisis data berfokus pada pemaknaan tanda denotatif, konotatif, dan mitos dari berbagai elemen visual, dialog, serta alur cerita. Hasil analisis menunjukkan bahwa pada tataran denotatif, sadisme digambarkan secara eksplisit lewat aksi manipulasi, pengkhianatan brutal, kompetisi mematikan, dan pembunuhan fisik. Secara konotatif, tindakan kekerasan tersebut merupakan cerminan tajam dari kelamnya realitas sosial yang dipenuhi oleh dominasi kaum elite, semunya kebebasan, serta hancurnya rasa kemanusiaan akibat tekanan struktural yang timpang. Lebih jauh pada level mitos, serial ini mematahkan narasi idealis tentang kemenangan keadilan dan kekuatan persahabatan, sekaligus menelanjangi bagaimana tatanan masyarakat modern seolah telah mewajarkan kompetisi berdarah dan dominasi kelas. Kesimpulannya, Squid Game 2 hadir sebagai sebuah kritik ideologis yang membongkar cara kerja manipulasi kekuasaan dalam melanggengkan ketimpangan sosial yang sudah terlembaga secara sistemik.