Air merupakan komponen esensial bagi kelangsungan hidup manusia, namun air yang tidak aman justru dapat menjadi media penularan berbagai penyakit. Secara global, lebih dari dua miliar orang masih hidup tanpa akses terhadap air yang layak konsumsi, kondisi ini berkontribusi terhadap 1,4 juta kematian setiap tahun dan memicu hampir setengah dari angka malnutrisi global (Setyoadi, 2012). Di Indonesia, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Berdasarkan Survei Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Tahun 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, ditemukan fakta bahwa sekitar 80 persen akses air minum rumah tangga belum memenuhi kategori aman. Bahkan, kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) ditemukan pada 45,4 persen sampel air minum isi ulang yang diuji oleh Kementerian Kesehatan. Artinya, hampir setengah dari air isi ulang yang dikonsumsi masyarakat setiap hari berpotensi membawa penyakit (Pangestu & Lusno, 2025).Selain faktor kualitas sumber air, perilaku masyarakat dalam pengolahan dan penyimpanan air minum juga menjadi faktor risiko penting. Banyak rumah tangga masih memiliki kebiasaan penyimpanan air dalam wadah terbuka, penggunaan wadah yang tidak higienis, kurangnya kebiasaan mencuci tangan sebelum mengambil air minum, serta minimnya pemahaman mengenai cara pengolahan air yang aman seperti perebusan yang benar, filtrasi, desinfeksi sederhana, maupun sanitasi wadah penyimpanan. Desa Namo Simpur merupakan salah satu wilayah yang masyarakatnya masih banyak menggunakan sumber air sederhana untuk kebutuhan sehari-hari.. Beberapa masyarakat masih menggunakan air tanpa proses perebusan hingga matang, serta kurang memperhatikan kebersihan tempat penyimpanan air minum. Selain itu, masih terdapat masyarakat yang menyimpan air minum di wadah terbuka sehingga berisiko terkontaminasi debu, serangga, maupun bakteri dari lingkungan sekitar. Tujuan pengabdian masyarakat ini untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang keamanan air. Adapun sasaranya adalah seluruh ibu bu yang tinggal didesa Sampur dan diharapkan nantinya setelah pengabdian masyarakat ini maka pengetahuan masyarakat akan meningkat tentang keamanan air sehingga semua masyarakat mengkonsumsi air yang berkualitas. Setelah dilakukan penyuluhan maka ada peningkatan pengetahuan yaitu dari 30 % menjadi 85 % berpengetahuan baik. Diharapkan kepada masyarakat Desa Namo Simpur dapat menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh selama kegiatan penyuluhan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pengolahan, penggunaan, dan penyimpanan air minum rumah tangga secara higienis.