Latar belakang: Pengobatan tuberkulosis membutuhkan kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara teratur sampai pengobatan selesai. Namun, efek samping yang muncul selama pengobatan dapat menimbulkan kekhawatiran dan mendorong pasien menghentikan obat tanpa berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Oleh karena itu, pasien perlu memperoleh konseling praktis agar mampu mengenali, menyikapi, dan melaporkan efek samping OAT secara tepat. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman pasien tuberkulosis dalam mengenali dan menyikapi efek samping OAT serta mendukung keteraturan pasien selama menjalani pengobatan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada bulan Mei 2026 di Puskesmas Hutabaginda, Sumatera Utara, dengan melibatkan 25 pasien tuberkulosis yang menjalani pengobatan rutin. Konseling individual diberikan setiap hari Rabu setelah pasien menyelesaikan proses pendaftaran, konsultasi dengan dokter, dan pengambilan OAT. Materi konseling meliputi manfaat OAT, efek samping ringan, efek samping yang perlu diwaspadai, tanda bahaya, tindakan yang harus dilakukan ketika keluhan muncul, dan pentingnya tidak menghentikan obat tanpa arahan tenaga kesehatan. Media yang digunakan berupa leaflet “Sahabat OAT” dan Kalender Checklist Minum OAT. Hasil: Kegiatan konseling berjalan dengan lancar dan pasien terlibat aktif dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan pasien meliputi mual, muntah, sakit perut, penurunan nafsu makan, kesemutan, sakit kepala, gangguan pendengaran, serta perubahan warna kulit dan mata. Setelah konseling, pasien mampu menjelaskan kembali pentingnya mengonsumsi OAT sampai pengobatan selesai, melaporkan efek samping kepada petugas kesehatan, dan tidak menghentikan obat secara mandiri. Pasien juga dapat mempraktikkan penggunaan kalender checklist untuk mencatat konsumsi OAT dan keluhan yang muncul selama pengobatan. Kesimpulan: Konseling individual menggunakan leaflet “Sahabat OAT” dan Kalender Checklist Minum OAT dapat diterima dengan baik serta membantu pasien mengenali dan menyikapi efek samping pengobatan. Kegiatan ini berpotensi mendukung keteraturan pasien dalam mengonsumsi OAT sampai pengobatan dinyatakan selesai.