Nuzaibah Azzahra
Universitas Dian Nuswantoro

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Karakteristik Bayi Berat Badan Lahir Rendah Di Puskesmas Poncol Tahun 2025 Nuzaibah Azzahra
Jurnal Riset Kesehatan Masyarakat Vol 6, No 2 (2026): April 2026
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jrkm.2026.31048

Abstract

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) merupakan salah satu indikator penting yang berkaitan dengan tingginya angka kesakitan dan kematian bayi, terutama pada periode neonatal. Kejadian BBLR dipengaruhi oleh berbagai faktor maternal dan perinatal, namun gambaran karakteristik bayi BBLR di tingkat pelayanan kesehatan primer masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik bayi dengan berat badan lahir rendah di Puskesmas Poncol Kota Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dan menggunakan metode total sampling. Subjek penelitian adalah seluruh bayi dengan berat lahir <2500 gram yang lahir pada periode Januari–Desember 2025 sebanyak 11 bayi, yang terdiri dari 10 bayi BBLR dan 1 bayi dengan berat badan lahir sangat rendah (BBLSR). Data diperoleh dari rekam medis ibu dan bayi meliputi usia ibu, usia kehamilan, jenis kelamin bayi, paritas, jarak kehamilan, jenis persalinan, serta jumlah kunjungan antenatal care (ANC), kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar bayi termasuk dalam kategori BBLR (76,9%), berjenis kelamin laki-laki (53,8%), lahir dari ibu berusia 20–35 tahun (84,6%), dengan usia kehamilan ≥36 minggu (53,8%), serta dilahirkan melalui persalinan sectio caesarea (53,8%). Seluruh ibu melakukan kunjungan ANC lebih dari enam kali selama kehamilan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian BBLR di Puskesmas Poncol dipengaruhi oleh karakteristik maternal dan perinatal. Oleh karena itu, disarankan adanya penguatan pemantauan kehamilan dan peningkatan kualitas pelayanan antenatal sebagai upaya pencegahan BBLR di tingkat pelayanan kesehatan primer.