Septi Armayani
Universitas Bengkulu

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Representasi Gender dan Kearifan Lokal dalam Buku Teks Bahasa Indonesia SMP pada Kurikulum Merdeka Septi Armayani; Sarwit Sarwono; Sudarwan Danim
DISASTRA: PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA Vol 8, No 2 (2026): JULI
Publisher : Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/disastra.v8i2.9273

Abstract

            Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ideologi dan kekuasaan yang terkandung dalam representasi gender dan kearifan lokal pada buku teks Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model tiga dimensi Norman Fairclough, yang menyediakan kerangka kerja komprehensif meliputi analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosiokultural. Data penelitian berupa teks dan ilustrasi dari tiga buku teks resmi Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka (kelas VII, VIII, dan IX) yang diterbitkan oleh Kemendikbudristek tahun 2024. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan analisis isi, dengan fokus pada konstruksi gender, representasi kearifan lokal, serta ideologi yang termuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks masih menampilkan kecenderungan patriarkis dan sentralistik budaya Jawa, meskipun terdapat upaya nyata menuju kesetaraan dan multikulturalisme. Representasi gender cenderung menempatkan laki-laki sebagai figur rasional dan pemimpin di ranah publik, sementara perempuan lebih sering tampil sebagai tokoh afektif dan pendukung moral dalam peran domestik atau komunal. Selain itu, representasi kearifan lokal lebih banyak diambil dari wilayah barat Indonesia (Jawa dan Sumatra) dan belum mewakili keragaman budaya nasional secara proporsional. Dari sisi ideologi, ditemukan dominasi nilai nasionalisme dan moralitas konvensional yang dibingkai sebagai kebenaran universal. Meskipun demikian, muncul pula wacana tandingan yang menampilkan nilai kesetaraan sosial, multikulturalisme, dan kepemimpinan perempuan. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa buku teks Bahasa Indonesia berfungsi sebagai arena negosiasi ideologi yang kompleks, yang mencerminkan hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan kebijakan pendidikan nasional.